Selasa, 22 Desember 2009

Sebuah Cermin di Dunia Maya (+18 Thn)

Siang itu, chat room kuaktifkan karena si kecil sudah tidur, jadi aku bisa ngobrol dengan teman-teman yang juga online. Biasanya kalau waktuku tidak begitu leluasa, maka chat room aku buat offline. Dan sebuah sapaan manis tiba-tiba muncul, ditambah sebuah smile icon yang berkedip-kedip. Aha! Sahabat lamaku!

Sambil tersenyum gembira, aku bertanya kabar dan kesibukannya saat ini. Sekadar pertanyaan ringan sebagai pembuka percakapan kami yang kuharap seru setelah lama berpisah. Dulu, kami sering berbagi cerita tentang apa saja sebelum akhirnya ia menikah dan diajak suaminya ke Surabaya. Setelah itu kami nyaris putus komunikasi.

“Aku single parent sekarang, Yaya,” tulisnya sembari menyebut nama kecilku yang lain. Jika kebanyakan temanku memanggilku Via atau Ia, dia selalu menyapaku Yaya.
Aku mengerutkan alis, urung memencet keyboard. Kutatap nama di monitorku dengan perasaan tak menentu. Ah, aku selalu begitu, serba salah ketika ada temanku yang ‘terpaksa’ mengatakan hal tak menyenangkan akibat harus menjawab pertanyaanku.

“Maksudmu…?” tanyaku mengambang.

“Aku yang memutuskan untuk berpisah dari suamiku.”

Aku bersabar, menunggu kelanjutan ceritanya.

“Mungkin satu-satunya yang tidak pernah aku ceritakan sama kamu selama kita bersahabat adalah sisi kelam hidupku, Ya. Dan kini aku akan menceritakannya, karena semua itu sangat berkaitan dengan perceraianku,” tulisnya. Aku merasakan nada getir disana. Ya, kegetiran yang sangat bisa kurasakan karena dia adalah salah satu sahabat terdekatku. Kami sama-sama merasa nyaman saat berdekatan dan merasa rindu saat berjauhan.

Tapi sisi kelam apa yang akan ia ceritakan padaku? Kenapa aku jadi begitu tegang menunggu kelanjutan ceritanya? Ya, Tuhan, semoga tidak seburuk yang kubayangkan.

“Pada saat umurku enam tahun, aku menemukan selembar foto yang terselip di ventilasi jendela rumah, entah siapa yang meletakkannya di situ. Sebuah foto yang mungkin menurut orang-orang dewasa belum berpengaruh apa-apa bagi anak sekecil aku. Tapi itu salah, otakku merekam jelas sebuah adegan intim di foto itu. Seorang laki-laki dengan dua orang perempuan, di atas tepat tidur, semuanya… telanjang!” tulisnya lagi.

Aku menarik napas, firasatku mengatakan bahwa cerita yang akan kudengar akan lebih tragis dari bayanganku semula. Ya, Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak cukup siap mendengarnya.

“Aku memang masih sangat kecil waktu itu, belum mengerti tentang hubungan intim yang dilakukan orang-orang dewasa. Tapi… tapi… kenapa sejak melihat foto itu aku seperti memiliki keinginan untuk mengeksplorasi bagian-bagian vital tubuhku? Aku suka berpura-pura memiliki payudara seperti orang dewasa, suka berpura-pura…,” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Pasti berat sekali untuk mengungkapkan beban seberat itu.

Sementara aku mulai merasakan keringat memercik di kedua telapak tanganku, pertanda ketegangan kian menyesak di dadaku. Sungguh, aku takut mendengar kelanjutannya.

“Kamu tahu, Ya, aku sudah mengenal onani di kelas tiga SD,” tulisnya mengejutkan.

“Astaghfirullah…!” Aku spontan sesak napas.

“Mungkin itu adalah akumulasi dari berbagai eksplorasi fisik yang kulakukan, dan semuanya bermula dari selembar foto yang dulu kutemukan di ventilasi jendela itu,” lanjutnya lagi.

Tiba-tiba aku ingin menanyakan, apa yang ia rasakan saat melakukan itu semua sementara usianya masih sangat belia untuk mengenal birahi. Tapi telapak tanganku yang bergetar dan mengembun membuatku tak kuasa menuliskan kata-kata. Aku yakin, dia pasti sedang berusaha menahan sesak di dadanya sendiri.

“Aku hanya mengikuti instingku. Mungkin seperti hewan, karena aku belum memiliki pikiran apa-apa tentang sex dan segala hal yang bisa merangsangnya. Yang kutahu, tiap kali muncul keinginan untuk beronani, maka aku akan melakukannya, entah itu saat belajar di kelas atau saat mengaji di rumah ustad. Pikiran kanak-kanakku tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah penyimpangan,” ulasnya lagi, kali ini disertai icon :-(

“Semakin bertambah usiaku, semakin mengertilah aku bahwa sesungguhnya ada yang tidak beres dalam diriku. Aku seperti orang gila yang memperkosa diri sendiri, dan ini tak kalah menyiksa dibanding pemerkosaan yang dilakukan oleh orang lain. Karena dalam kasusku, aku harus melawan diriku sendiri, dan itu tidak ringan!”

Kepalaku menggeleng prihatin tanpa mengalihkan mataku dari layar monitor.

“Sungguh berat menghentikannya! Hingga aku duduk di perguruan tinggi pun aku masih sering kalah oleh nafsu setan itu, dan kembali melakukannya. Berulangkali! Aku sudah sangat muak, tapi aku juga sangat lemah karena dorongan itu begitu kuat. Sangat kuat!” lanjutnya.

Ah, tentu saja sangat sulit menghentikan kebiasaan yang sudah begitu lama dilakukan, apalagi masa kanak-kanak adalah awal tertanamnya sebuah kebiasaan. Sudah sangat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebab apa yang dilakukan sahabatku itu juga mengandung unsur rasa nikmat, sekalipun kenikmatan semu. Pada saat ia sadar kalau dirinya juga menikmati rasa yang semu itu, pastilah penyesalan akan muncul berlipat-lipat. Seakan-akan ia yang menginginkan hal itu padahal dorongan birahi lah sesungguhnya yang berperan. Birahi yang terpupuk sejak kecil, tanpa ia sadari.

“Aku benci pada ayahku!” getasnya tiba-tiba. “Dialah penyebab semua ini! Dialah pemilik foto cabul itu!”

“Kamu tau dari mana?” tanyaku setelah sekian lama membiarkan dia bercerita tanpa kusela.

“Aku mendengar ayah dan ibuku bertengkar di suatu malam. Lalu keesokan harinya kulihat ibuku membuang foto itu di tempat sampah. Sudah tidak utuh, karena ibu telah merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku mengintip, lalu diam-diam mengumpulkan serpihan itu, mencoba menyusunnya kembali sambil dalam hati menyayangkan kenapa ibuku merobeknya. Entah apa yang menarik dari foto itu, tapi aku merasakan sebuah dorongan aneh tiap kali memandangnya. Otak kanak-kanakku memang tidak mengerti tapi instingku bekerja dengan cepat untuk menyerap dan menikmati semua itu,” tulisnya panjang lebar, seakan-akan semuanya masih begitu segar dalam memori otaknya.

“Hingga kini, aku selalu dihantui rasa berdosa akibat semua yang telah kulakukan. Aku merasa telah lama ternoda oleh diriku sendiri. Waktu sekolah dulu, aku sering minder di depan teman-teman yang menurutku normal dan bersih.” Sebuah icon :-( muncul lagi.

“Tapi syukurlah setelah kuliah aku diajak mengikuti pengajian di kampus yang akhirnya membuatku benar-benar kuat meninggalkan semua kebiasaan buruk itu. Sungguh, aku sangat takut jika tiba-tiba aku menyerah dan melakukannya lagi. Untunglah teman-teman di pengajian itu selalu menyemangatiku meski mereka tak tahu masa laluku,” tulisnya melanjutkan. Ah, syukurlah, dadaku mendadak terasa lebih lapang.

Tapi… cerita itu belum selesai.

“Kamu ingin tahu hubungannya dengan perceraianku?” Ia bertanya penuh pancingan, namun aku hanya menunggu penasaran.

“Suamiku suka mengoleksi majalah dan menonton film-film porno. Sesuatu yang sangat tidak aku duga sebelum kami menikah dulu. Dan ketika aku mengetahui hal itu, aku seperti diseret ke dalam sebuah labirin yang panjang sebelum akhirnya terhempas dalam kubangan masa laluku. Aku seperti disodorkan lagi pada sebuah kenyataan yang sangat buruk dan kubenci. Aku seakan dihantui bayangan-bayangan kelam yang menakutkan…,” lanjutnya getir, amat getir kurasa.

Ya, Tuhan, aku menelan ludah membayangkan perasaannya. Kurasakan mataku memanas, tak kuasa menahan iba.

“Aku adalah bukti dan hasil dari sebuah keteledoran orangtua yang suka melihat hal-hal cabul. Dan aku nggak mau anak-anakku mengalami hal yang sama. Jika sebuah foto saja bisa begitu hebat pengaruhnya pada jiwa dan perkembanganku, bagaimana dengan film atau video-video cabul? Pasti akan jauh lebih dahsyat. Bisa-bisa anakku dengan gampang melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya di usia belia. Na’udzubillahi min dzalik!” nada kalimatnya begitu bergelombang, penuh emosi. Sebagai sahabat, tentu aku merasakannya.

Sambil menahan agar air mataku tidak meleleh, kembali kutelan ludah yg menyekat. Berkali-kali aku menghela napas dalam-dalam untuk memberi ruang lebih bagi oksigen yang sejak tadi terasa sempit melewati paru-paruku.

Melintas bayangan dua buah hatiku yang masih balita, hatiku kian terenyuh. Sungguh, jangan sampai mental mereka diracuni oleh pornografi seperti yang dialami sahabatku ini. Mereka adalah amanah Allah yang harus kujaga, bagaimana kelak aku mempertanggungjawabkan mereka dihadapan Allah jika mereka justru rusak oleh kelalaianku sendiri. Oh, no!

Mendadak aku tersadar, inilah cermin bagiku, cermin bagi banyak orang tua, agar mereka berhati-hati menjaga buah hatinya. Jangan sampai akibat perilaku buruk orangtua, anak-anak lah yang jadi korbannya. Begitu pun ketika mendapati anak-anak berperilaku menyimpang, jangan buru-buru memarahi dan menyalahkannya, tapi segeralah bercermin dan lakukan introspeksi diri secara jujur. Orangtua tidak selalu benar, bukan?

“Aku sudah berkali-kali mengingatkan suamiku, mulai dari cara yang paling lembut, sampai cara paling ekstrim yang mampu kulakukan. Tapi dia selalu berkilah dengan sejuta alasan yang kadang sangat menyakitkan bagiku,” lanjutnya lagi dengan nada kecewa yang tak mampu ditutupi.

“Aku bukan orang yang pintar berdalil dengan ayat-ayat, Yaya. Tapi menurutmu, melihat orang berhubungan intim itu dosa, nggak? Jangankan melihat itu, melihat aurat orang lain saja nggak boleh, kan? Jangankan melihat orang berzina, melihat suami istri berhubungan intim saja dilarang, kan?” Kalimat-kalimat penuh tanya yang kurasa tak membutuhkan jawaban dariku.

“Sungguh, kamu kuat bisa melalui semua ini,” tulisku sungguh-sungguh.

“Ya, dan aku merasa sangat kuat ketika membawa anak-anakku pergi, bukan untuk memisahkan dari ayah kandung mereka tapi untuk menjauhkannya dari pengaruh buruk yang mungkin belum mereka sadari. Karena aku ingin rumah tempat anak-anakku tumbuh adalah rumah yang steril dari hal-hal seperti itu, demi melindungi jiwa dan masa depan mereka. Juga demi menghapus ingatanku dari trauma masa lalu.” Kali ini kalimatnya terdengar lebih tegar.

“Mungkin bagi suamiku belum cukup, tapi bagiku sudah cukup. Anak-anakku sudah semakin besar dan semakin mudah menyerap apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apa boleh buat, sebagai seorang ibu aku wajib melindungi anak-anakku. Mereka adalah amanah Allah. Dan aku bertanggung jawab kelak di hadapan Allah atas amanah yang kuterima. Jadi maaf jika akhirnya aku lebih memilih berpisah.” Kalimatnya semakin tegar dan yakin. Syukurlah, aku juga merasa semakin lega. Paru-paruku pun kian lancar dialiri oksigen.

Kami saling terdiam. Sesaat kemudian kami sama-sama melempar senyum di chat room, mewakili hati kami yang saling menguatkan dan mendoakan. Dia, sahabatku tercinta. Seorang sahabat yang kuat dan sangat pandai menyimpan cerita buruk masa lalunya selama puluhan tahun tanpa sempat terbaca sedikit pun olehku. Kini, ia pun menjadi cermin bagiku dalam melangkah. (V)

sumber: noviasyahidah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar