Rabu, 23 Desember 2009

Tragis, Kematian Para Bintang Porno

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Surat dari "BEKAS ARTIS PORNO" untuk para pria

Gadis cantik, bertubuh seksi dan mata yang membangkitkan gairah seakan-akan berkata “i want You“. Itu kesan yang terlihat di setiap sampul film porno. Tapi, bisa jadi itulah tipuan terbesar sepanjang masa.

Inilah kisah dan pengakuan Shelley Luben tentang masa buruk dan seluk beluk industri maksiat itu. Tulisan ini diturunkan sebagai pelajaran bagi kita semua. Terutama para aktivis yang “menurut mata” terhadap dampak industri pornografi.

Percayalah, Aku tahu

“Aku dulu pernah melakukannya sepanjang waktu dan aku melakukannnya karena.

Nafsuku akan kekuasaan dan kecintaanku kepada uang. Aku tidak pernah menyukai seks. Bahkan Aku tidak menginginkannya dan faktanya aku lebih banyak minum Jack Daniels (jenis minuman alkohol import original. Sejenis Jhonny Walke yang juga masuk Indonesia, red) daripada bersama para pria yang dibayar seperti aku untuk “berpura-pura” di film.

Ya Benar tidak ada diantara kami –gadis-gadis blonde yang menyukai being in porn movie. Kami benci disentuh oleh orang asing yang sama sekali tidak peduli dengan kami. Kami benci dianggap rendah oleh mereka, laki-laki dengan keringat dan bau busuknya. Beberapa diantara kami sering sampai muntah di kamar mandi saat break syuting. Sedangkan yang lainnya berusaha menenangkan diri dengan merokok Marlboro tanpa henti.

Tapi porn industry (industri pornografi) ingin agar kamu selalu berpikir kalau kami artis porno sangat menyukai seks. Mereka ingin kamu percaya bahwa kami senang dilecehkan seperti binatang dalam berbagai jenis adegan di film.

Kenyataannya, artis porno sering tidak tahu apa saja adegan yang akan mereka lakukan saat pertama kali datang ke lokasi syuting dan kami hanya diberi dua pilihan oleh produser: “Lakukan atau Pulang Tanpa Bayaran. Kerja atau tidak akan bisa kerja lagi.”

Iya memang benar kami punya pilihan.

Beberapa diantara kami memang sangat memerlukan uang. Tapi kami dimanipulasi, dipaksa bahkan diancam.

Beberapa diantara kami terjangkit AIDS karena profesi ini. Atau tertular herpes dan berbagai macam penyakit kelamin lain yang sukar disembuhkan. Salah seorang artis film porno setelah syuting dengan menahan sakit sepanjang hari setelah sampai dirumah menembak kepalanya dengan pistol.

Kebanyakan dari artis porno mungkin berasal dari keluarga yang berantakan dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari keluarga atau tetangganya sendiri. Saat kami kecil kami hanya ingin bermain dengan boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki dewasa berada diatas tubuh kami.

Jadi sejak kecil kami belajar bahwa seks bisa membuat kami berharga. Dan dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.

Karena trauma itu kebanyakan artis porno hidupnya tergantung kepada alkohol dan narkotika. Dan hidup kami juga selalu diliputi ketakutan akan terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya seperti; Herpes, gonorrhea, syphilis, chlamydia, dll. setiap hari menghantui kami.

Menurut catatan Shelley dalam situs web nya. Sebelas bintang pornografi pornografi mati akibat HIV, bunuh diri, pembunuhan dan obat pada tahun 2007. Antara 2003 dan 2005, 976 orang pemain dilaporkan dengan 1.153 hasil positif STD. 66% dari pemain pornografi terkena Herpes, penyakit yang tak dapat disembuhkan.

Memang setiap bulan kami diperiksa tapi kamu tahu, kalau hal tersebut tidak akan bisa mencegah kami tertular penyakit-penyakit mematikan itu. Selain penyakit, adegan syuting tidak kalah mengerikannya, banyak dari kami mengalami luka sobek atau luka pada organ tubuh bagian dalam kami.

Diluar syuting kami sering berharap bisa menjalani hidup yang normal. Tapi sangat sulit menjalin hubungan yang normal dengan laki-laki ‘biasa’, maka dari itu kebanyakan dari kami menikah dengan sutradara film porno atau menjalani hidup sebagai lesbian.

Buat aku, momen yang tidak akan terlupakan adalah ketika tanpa sengaja anak perempuanku melihat ibunya yang telanjang sedang berciuman dengan gadis lain. Anakku pasti akan terus mengingatnya juga.

Pada hari yang lain kami bisa berubah seperti zombie dengan botol bir di tangan kanan dan gelas wisky di tangan kiri. Kami tidak suka bersih-bersih jadi sering kali kami harus menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran kami. Selain itu artis porno benci memasak sendiri. Biasanya kami memesan makanan yang kemudian kami muntahkan lagi karena kebanyakan dari kami menderita bulimia, semacam gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan.

Bagi artis porno yang memiliki anak, kami adalah ibu yang paling buruk. Kami menjerit dan bahkan memukul anak kami tanpa alasan. Seringkali saat kami begitu mabuknya sampai-sampai anak kami yang berumur 4 tahun yang menyeret kami dari lantai. Dan ketika ada tamu (kebanyakan karena alasan seks) kami harus mengunci anak kami terlebih dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam.

Kalau aku biasa membekali anak gadisku dengan pager dan kusuruh dia menungguku di taman sampai aku selesai dengan tamuku.”

Semua Tipuan…

“Kalau kamu bisa melihat lebih dalam kehidupan artis film porno mungkin kamu akan kehilangan minat menonton film porno. Kenyataan sebenarnya kami artis film porno ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.

Kami berharap kalian kaum pria membantu kami, memperjuangkan kebebasan dan kehormatan kami. Kami ingin kalian memeluk kami saat kami menghapus air mata dan menyembuhkan luka di hati kami. Kami berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.

Industri film porno tidak lebih dari “seks palsu” dan “tipuan kamera”. Percayalah…….!

sumber: hidayatullah.com

kunjungi juga situs : shelleylubben.com , situs ini milik mantan artis film porno

7 Alasan Kenapa Kamu Jangan Jadi BINTANG FILM PORNO !!! (Buat Kaum Pria)

Ditulis oleh aktor film porno yg namanya dirahasiakan
…. dan bukan gw !

Hai, aku bintang filem porno dan ini menyebalkan ! Aku tahu yg mungkin kalian semua pikirkan,
“Sialan lo, k**tol lo udah gede gitu ditambah lagi dibayar buat ng**tot masih aja protes !”

Emang benar, tapi menjadi “profesional” itu tidak seperti bayangan kalian. Aku udah menekuni perkerjaan ini hampir 2 tahun, mengalami banyak hal lucu, menggairahkan dan banyak ( paling banyak ) pengalaman buruk. Dibawah ini aku membuat daftar “7 Hal Paling Utama Kenapa Kamu Jangan Menjadi Aktor Film Porno”.

Tapi sebelumnya aku mau bilang, emang sih pada umumnya pekerjaanku ini sangat hot dan “kinky”, tapi urusan “baut vs mur” (tau kan artinya apa) dan hari-hari penuh perjuangan untuk tetap bertahan di “Porn Industry” bisa membuat seorang pria melemah ( dan menjadi “lemah” bisa merugikan kalo kamu berada di dalam industri ini, percayalah ! Ada di alasan no. 2 ).

Jadi kenapa aku mau kerja beginian ? Uang iya, tapi gak banyak dan kemudian ada sex nya. Tapi mungkin alasan utama aku melakukannya adalah karena aku “bisa” – tidak banyak orang yg bisa “tampil” dengan lampu sorot terang, kru kamera dan sutradara cerewet yg terus-terusan teriak “Fuck her harder !” Dan jujur saja bekerja di Dunkin’ Donuts (aku pernah bekerja disitu) situasinya jauh lebih baik.

Tapi, untuk sementara ini aku akan berjuang melakukan ini meski berat. Dan inilah alasan kenapa kamu harus berpikir seribu kali sebelum terjun menjadi aktor film porno:


ALASAN #1. Kamu Harus Ngesex

Ya kedengeran emang gila – jadi binteng pilem porno kan emang harus ngen**t. Tapi coba kamu pikirin : Mungkin kamu tu orang yg hampir selalu horny (seperti aku) tapi itu kan gk berarti kamu kepingin ngen**tin orang sepanjang hari ! Kita laki-laki cuma ngesex kalo emang udah kepingin banget, kan ? Bukan saat ada orang lain yg bilang “time to fuck” katakanlah pada pukul 2 siang saat kita ngantuk & laper. Akan ada kira-kira 8 orang didalam ruang syuting – kamu, sutradara, artis cewek yg akan kamu “eksekusi”, kameramen, petugas lampu, tukang make up dan beberapa laki-laki yg bahkan kamu gak tau siapa dan ngapain mereka disitu – dan tiba-tiba waktunya kamu harus nge**ot ! Kamera… Action… oke deh


ALASAN #2. Kamu Gak Bisa Bangunin Assetmu

Mimpi buruk setiap laki-laki ini biasa terjadi di lokasi syuting film bokep. Emang sih ada Viagra dan Cialis yg selalu tersedia. Tapi ada efek samping kalau terus-2 an minum obat-obatan ini, yaitu efek toleransi tubuh. Jadi tubuhmu akan kebal kalo kamu terlalu banyak pakai obat-2an ini. Dan setelah beberapa waktu walaupun kamu nelan segepok pil-pil ini gak akan terjadi apa-apa pada “bagian bawahmu”. Trus bagaimana dong ? Suntik penismu ( ya, dengan jarum ) dengan semacam cairan tertentu yg bisa membuat “senjatamu” langsung berdiri tegak – efeknya satu, bagian bawah penismu akan banyak terdapat lubang-2 bekas jarum suntik. Dan bagaimana jika kamu tergolong orang yg takut jarum suntik ? Jangan khawatir deh, selalu ada orang yg akan membantu… dan biasanya laki-laki


ALASAN #3. Bayaran Aktor Pria Jauh Lebih Kecil Daripada Artis Porno Cewek

Biasanya bayaran artis wanita berkisar antara $800 sampai $2.000 tiap scene-nya, tergantung dari berapa banyak aktor pria yg dia “layani”, dan jenis adegan apa yg dijalankan ( double penetration, threesome, deep throat, anal, cream pie dll ). Kalo bayaran kita para lelaki berapa ? Rata-rata $200 ! Ya benar cuma segitu… walaupun kita dapet duitnya setelah ngesex ama bintang porno yg cantik-2 tapi tetep aja sampe rumah kita harus bayar segala macem tagihan bulanan. Jadi kebanyakan dari kita selalu punya profesi sampingan… seperti jadi waiter atau tukang parkir


ALASAN #4. Kamu Harus Jago “Menembak”

Saat tiba pada adegan “money shot” atau “cum shot” sutradara hampir selalu menginginkan agar kamu menyiram tepat di wajah si cewek. Tidak ada yg lebih buruk dari ketika lagi adegan hot lalu disaat terakhir, terakhir sekali dengan artis cewe cantik berlutut didepanmu dengan mulut terbuka menanti kehadiran sperma mu dan CROT ! Kamu terlalu bersemangat sehingga cairanmu malah terbang melayang mengenai tembok didepanmu ato kamu udah capek dan bukannya nyembur tapi spermamu malah netes-2 kaya ingus. Lalu CUT ! Si Sutradara akan minta agar kamu mengulangi adegan tadi, dan kalo kamu udah lemes mereka akan menggantimu dengan orang lain yg pistol gombyoknya masih penuh amunisi. Egois banget kan !


ALASAN #5. Kamu Gak Selera Dengan Partner Mainmu

Mungkin sebagian besar dari kalian belum pernah menyentuh payudara hasil operasi plastik. Apalagi yg diisi dengan silicon dengan ukuran hampir seperti bola sepak itu. Kalo kamu pas apes dan salah satu dari “pepaya bangkok” menghantam kepalamu… rasanya sakit banget bro ! Mungkin kamu suka cewe yg langsing atau putih tapi kalo yg sedang kamu ent*t di film itu chubby dan item atau terlalu ceking dan ngingetin kamu dengan saudara perempuanmu – kamu tau kan maksudnya. Gak penting apakah kamu MEMBENCI wajah, bau atau rasa dari artis porno partnermu – kamu harus tetap dengan semangat ngen**t in dia atau kamu akan tergusur dengan predikat “sulit diajak bekerja sama” atau “pemilih” dan akhirnya gak ada lg yg manggil kamu untuk ikutan casting.

Ini benar-2 harus kamu perhatikan , kamu harus punya mental yg sangat kuat ( dan punya bakat lebih dalam berfantasi membayangkan orang lain ) untuk mengatasi masalah ini.


ALASAN #6. Kamu Harus Punya Toleransi Yang Luar Biasa

Mungkin kamu akan beradegan threesome dengan aktor pria lain dan satu artis cewek atau kamu harus ngelakuin double penetration dengan kemungkinan 100% penismu akan bersentuhan dengan kon**l rekan mainmu. Atau kamu bakalan gak nyaman saat juru kamera bersandar di bahumu untuk bisa mendapatkan gambar terbaik saat si artis lagi mengulum “bijimu”. Gak suka anal sex ? Sayang sekali. Gak suka jilatin me**k ? Wah berat men ! Dan juga bayangin kalo kamu harus menggendong si artis bagai Superman ( adegan di tembok, diatas sofa, diatas tangga…. ) Mereka sama sekali tidak ingin mendengar kamu komplain. LAKUKAN atau enyah dari sini…. Kita bisa nyari orang lain !


ALASAN #7. Partner Mainmu Gak Sengaja Menyakiti “Assetmu”

Inget ya bro… partner mainmu jg kepingin terlihat “panas”, tampil penuh nafsu ( karir dan penghasilannya kan juga tergantung dengan ini ). Jadi dia akan menggigit penismu, ngocok terlalu keras dan cepat, ngisep biji-bijianmu dan memutar-mutarnya seperti lagi menggiling daging mentah untuk dijadiin hamburger. Dan berbagai macam jenis siksaan lainnya. Gak mungkin kamu ngomong kalo kesakitan ke partnermu karena mungkin rekan mainmu itu juga lagi kesakitan habis kamu bor dengan senjatamu yg barusan disuntik obat hingga mati rasa. Sutradara jelas bukan orang yg mau bersimpati ama kamu, kru yg lain juga gk akan peduli dengan perasaanmu. Dan ada lagi yg namanya “Angle” atau sudut pengambilan gambar.

Ingat ini… ANGLE. Dari sisi samping, atas, bawah dan sudut-sudut gak normal lainnya yg pada intinya agar kamera bisa mengambil adegan utama dari film porno… Penis Masuk Ke Vagina ! Apa yg terasa bagus dalam hubungan sex normal seringkali tidak baik untuk film jadi seringkali kamu harus bergaya bagai pesenam olimpiade saat disyuting, dan kebanyakan… rasanya sakit. Kadang-kadang rasanya penismu akan patah ! Dan kamu harus tetep melakukannya terus… terus… dan terus gak peduli apa yg akan terjadi.

Seperti yg udah kamu baca diatas, pekerjaan ini kelihatannya menyenangkan tapi menjadi male porn actor itu berarti kerja keras dengan hasil yg gak selalu sesuai. Kayaknya aku lupa nyebut ini, kalian akan terus-menerus diliputi rasa kuatir akan ketahuan ama keluarga atau teman-temanmu mengenai profesimu sebenarnya! Anggap aja ini Bonus dari 7 alasan diatas. Aku akan segera pensiun setelah bisa ngumpulin biaya untuk kuliah.

sumber: indowap.net

Selasa, 22 Desember 2009

Onani Siang Hari di Bulan Ramadhan

Pertanyaan
Ass. wr. wb.,

Ustadz, saya mau bertanya apakah hukumnya melakukan onani (bukan bersenggama) di siang hari bulan Ramadhan?

Wassalam,

Ervan Bahrian

Jawaban
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ervan Bahrian yang dimuliakan Allah swt

Onani (istimna’) adalah mengeluarkan mani bukan melalui persetubuhan baik dengan tangan maupun dengan cara lainnya, demikian pengertian bahasanya. Sedangkan didalam buku-buku fiqih disebutkan bahwa onani mengeluarkan mani dengan tangan baik tangannya sendiri, tangan istrinya atau tangan budak perempuannya. (Lihat : Hukum Onani atau Masturbasi)

Onani yang dilakukan seseorang saat berpuasa maka menurut para ulama Maliki, Syafi’i dan Hambali dan pada umumnya ulama Hanafi mengatakan bahwa onani dengan menggunakan tangan membatalkan puasa.

Tidak ada kafarat didalam perbuatan onani itu meskipun ia membatalkan puasa, demikian menurut Hanafi dan Syafi’i. Hal ini berbeda dengan pendapat yang menjadi sandaran Maliki dan salah satu pendapat dari Hambali, karena onani itu menjadikannya berbuka dari puasa tanpa adanya jima’ dan karena tidak ada satu nash pun atau ijma’ yang mewajibkannya kafarat.

Adapun pendapat yang menjadi sandaran Maliki adalah diwajibkan atasnya kafarat dan qodho, demikian pula sebuah riwayat dari Ahmad bin Hambal, pada umumnya riwayat dari Rofi’i dari kalangan Syafi’i serta riwayat dari Abi Kholf ath Thobariy menunjukkan hal itu.

Dalil dari diwajibkan atasnya kafarat adalah dikarenakan perbuatan itu menjadi sebab keluarnya mani yang serupa dengan keluarnya mani melalui jima’. (Al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 1159)

Dengan demikian onani yang dilakukan seseorang di siang hari Ramadhan dapat membatalkan puasanya dan diwajibkan baginya bertaubat kepada Allah dan mengqodho (mengganti) puasanya itu tanpa adanya kafarat dikarenakan kafarat hanya dikhususkan apabila terjadi jima’ saja (Lihat : Bisakah Fidyah Mengganti Batal Puasa Karena Senggama), sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Nabi saw dan berkata,”Aku telah celaka wahai Rasulullah.” Nabi menjawab,”Apa yang membuatmu celaka?”

Orang itu berkata,”Aku telah menyetubuhi istriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya,”Adakah kamu memiliki sesuatu untuk membebaskan budak?” Orang itu menjawab,”Tidak.” Nabi bertanya,”Sanggupkah kamu berpuasa dua bulan terus-menerus?” Orang itu berkata,”Tidak.” Nabi bertanya,”Apakah kamu memiliki sesuatu untuk memberikan makan enam puluh orang miskin.” Orang itu menjawab,”Tidak.” Kemudian Nabi terdiam beberapa saat hingga didatangkan kepada Nabi sekeranjang berisi korma dan berkata,”Nah, sedekahkanlah ini.” Orang itu berkata,”Adakah orang yang lebih miskin dari kami. Maka tidak ada tempat diantara dua batu hitam penghuni rumah yang lebih miskin dari kami.” Lalu Nabi pun tertawa hingga terlihat gigi grahamnya kemudian berkata,”Pegilah dan berikanlah ini kepada keluargamu.” (HR. Jama’ah)

Wallahu A’lam

sumber: eramuslim.com

Apa Perlu Saya Lakukan

Pertanyaan
Salam ustz...saya ada kawan yang mempunyai masalah suka melancap (beronani)..dia masih belajar...kalau diikutkan keadaanya dia patut menikah..tapai alasannya dia masih belum bersedia...apakah yang teman saya ini perlu lakukan...adakah dia boleh meneruskan perbuatannya itu?

Aiman, malaysia

Jawaban
Saudaraku Aiman di Malaysia yang dimuliakan Allah SWT, awal mula melakukan onani biasanya karena rangsangan seksual dari lingkungan yang terus menerus. Siaran TV yang seronok, bacaan yang erotik, mata yang tidak terjaga, dan percakapan yang diselipi oleh kata-kata porno (walau dengan nada bercanda) adalah contoh lingkungan yang dapat meningkatkan libido seksual. Lalu karena tidak mampu menahan libido tersebut dan belum menikah pelariannya adalah onani (bagi lelaki) atau masturbasi (bagi perempuan).

Jika onani dirasakan sebagai pelarian yang menyenangkan, maka hal ini akan diulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihindari.
Solusi dari berhenti onani adalah menikah. Dengan menikah seseorang mempunyai cara yang sehat dan syar’i untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Namun jika belum siap menikah, maka solusi sementaranya adalah menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif, menjauhi diri dari lingkungan yang merangsang libido dan memperbanyak ibadah (mendekatkan diri kepada Allah). Jika solusi di atas tidak mampu menyelesaikan kebiasaan onani, maka sangat dianjurkan agar kita segera menikah.

Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan agar pemuda dan pemudi Islam tidak menunda-nunda untuk menikah. Kehidupan sekarang ini membuat kita terpengaruh untuk menunda-nunda menikah dengan berbagai alasan. Misalnya, menyelesaikan kuliah dahulu, mapan dahulu atau mengejar karir lebih dahulu. Alasan yang kelihatannya rasional ini ternyata malah menimbulkan masalah baru yang lebih buruk, yakni munculnya generasi muda yang terperosok pada perzinahan dengan berbagai bentuknya.

Lalu tentang hukum beronani dalam Islam, saya kutip disini pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan :
“Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu'minuun: 5 - 6]

Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negatif syahwat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.

Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.

Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda”.

Demikian pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan yang saya kutip dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram.

Demikian, semoga bermanfaat.
Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

sumber: eramuslim.com

Sebuah Cermin di Dunia Maya (+18 Thn)

Siang itu, chat room kuaktifkan karena si kecil sudah tidur, jadi aku bisa ngobrol dengan teman-teman yang juga online. Biasanya kalau waktuku tidak begitu leluasa, maka chat room aku buat offline. Dan sebuah sapaan manis tiba-tiba muncul, ditambah sebuah smile icon yang berkedip-kedip. Aha! Sahabat lamaku!

Sambil tersenyum gembira, aku bertanya kabar dan kesibukannya saat ini. Sekadar pertanyaan ringan sebagai pembuka percakapan kami yang kuharap seru setelah lama berpisah. Dulu, kami sering berbagi cerita tentang apa saja sebelum akhirnya ia menikah dan diajak suaminya ke Surabaya. Setelah itu kami nyaris putus komunikasi.

“Aku single parent sekarang, Yaya,” tulisnya sembari menyebut nama kecilku yang lain. Jika kebanyakan temanku memanggilku Via atau Ia, dia selalu menyapaku Yaya.
Aku mengerutkan alis, urung memencet keyboard. Kutatap nama di monitorku dengan perasaan tak menentu. Ah, aku selalu begitu, serba salah ketika ada temanku yang ‘terpaksa’ mengatakan hal tak menyenangkan akibat harus menjawab pertanyaanku.

“Maksudmu…?” tanyaku mengambang.

“Aku yang memutuskan untuk berpisah dari suamiku.”

Aku bersabar, menunggu kelanjutan ceritanya.

“Mungkin satu-satunya yang tidak pernah aku ceritakan sama kamu selama kita bersahabat adalah sisi kelam hidupku, Ya. Dan kini aku akan menceritakannya, karena semua itu sangat berkaitan dengan perceraianku,” tulisnya. Aku merasakan nada getir disana. Ya, kegetiran yang sangat bisa kurasakan karena dia adalah salah satu sahabat terdekatku. Kami sama-sama merasa nyaman saat berdekatan dan merasa rindu saat berjauhan.

Tapi sisi kelam apa yang akan ia ceritakan padaku? Kenapa aku jadi begitu tegang menunggu kelanjutan ceritanya? Ya, Tuhan, semoga tidak seburuk yang kubayangkan.

“Pada saat umurku enam tahun, aku menemukan selembar foto yang terselip di ventilasi jendela rumah, entah siapa yang meletakkannya di situ. Sebuah foto yang mungkin menurut orang-orang dewasa belum berpengaruh apa-apa bagi anak sekecil aku. Tapi itu salah, otakku merekam jelas sebuah adegan intim di foto itu. Seorang laki-laki dengan dua orang perempuan, di atas tepat tidur, semuanya… telanjang!” tulisnya lagi.

Aku menarik napas, firasatku mengatakan bahwa cerita yang akan kudengar akan lebih tragis dari bayanganku semula. Ya, Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak cukup siap mendengarnya.

“Aku memang masih sangat kecil waktu itu, belum mengerti tentang hubungan intim yang dilakukan orang-orang dewasa. Tapi… tapi… kenapa sejak melihat foto itu aku seperti memiliki keinginan untuk mengeksplorasi bagian-bagian vital tubuhku? Aku suka berpura-pura memiliki payudara seperti orang dewasa, suka berpura-pura…,” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Pasti berat sekali untuk mengungkapkan beban seberat itu.

Sementara aku mulai merasakan keringat memercik di kedua telapak tanganku, pertanda ketegangan kian menyesak di dadaku. Sungguh, aku takut mendengar kelanjutannya.

“Kamu tahu, Ya, aku sudah mengenal onani di kelas tiga SD,” tulisnya mengejutkan.

“Astaghfirullah…!” Aku spontan sesak napas.

“Mungkin itu adalah akumulasi dari berbagai eksplorasi fisik yang kulakukan, dan semuanya bermula dari selembar foto yang dulu kutemukan di ventilasi jendela itu,” lanjutnya lagi.

Tiba-tiba aku ingin menanyakan, apa yang ia rasakan saat melakukan itu semua sementara usianya masih sangat belia untuk mengenal birahi. Tapi telapak tanganku yang bergetar dan mengembun membuatku tak kuasa menuliskan kata-kata. Aku yakin, dia pasti sedang berusaha menahan sesak di dadanya sendiri.

“Aku hanya mengikuti instingku. Mungkin seperti hewan, karena aku belum memiliki pikiran apa-apa tentang sex dan segala hal yang bisa merangsangnya. Yang kutahu, tiap kali muncul keinginan untuk beronani, maka aku akan melakukannya, entah itu saat belajar di kelas atau saat mengaji di rumah ustad. Pikiran kanak-kanakku tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah penyimpangan,” ulasnya lagi, kali ini disertai icon :-(

“Semakin bertambah usiaku, semakin mengertilah aku bahwa sesungguhnya ada yang tidak beres dalam diriku. Aku seperti orang gila yang memperkosa diri sendiri, dan ini tak kalah menyiksa dibanding pemerkosaan yang dilakukan oleh orang lain. Karena dalam kasusku, aku harus melawan diriku sendiri, dan itu tidak ringan!”

Kepalaku menggeleng prihatin tanpa mengalihkan mataku dari layar monitor.

“Sungguh berat menghentikannya! Hingga aku duduk di perguruan tinggi pun aku masih sering kalah oleh nafsu setan itu, dan kembali melakukannya. Berulangkali! Aku sudah sangat muak, tapi aku juga sangat lemah karena dorongan itu begitu kuat. Sangat kuat!” lanjutnya.

Ah, tentu saja sangat sulit menghentikan kebiasaan yang sudah begitu lama dilakukan, apalagi masa kanak-kanak adalah awal tertanamnya sebuah kebiasaan. Sudah sangat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebab apa yang dilakukan sahabatku itu juga mengandung unsur rasa nikmat, sekalipun kenikmatan semu. Pada saat ia sadar kalau dirinya juga menikmati rasa yang semu itu, pastilah penyesalan akan muncul berlipat-lipat. Seakan-akan ia yang menginginkan hal itu padahal dorongan birahi lah sesungguhnya yang berperan. Birahi yang terpupuk sejak kecil, tanpa ia sadari.

“Aku benci pada ayahku!” getasnya tiba-tiba. “Dialah penyebab semua ini! Dialah pemilik foto cabul itu!”

“Kamu tau dari mana?” tanyaku setelah sekian lama membiarkan dia bercerita tanpa kusela.

“Aku mendengar ayah dan ibuku bertengkar di suatu malam. Lalu keesokan harinya kulihat ibuku membuang foto itu di tempat sampah. Sudah tidak utuh, karena ibu telah merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku mengintip, lalu diam-diam mengumpulkan serpihan itu, mencoba menyusunnya kembali sambil dalam hati menyayangkan kenapa ibuku merobeknya. Entah apa yang menarik dari foto itu, tapi aku merasakan sebuah dorongan aneh tiap kali memandangnya. Otak kanak-kanakku memang tidak mengerti tapi instingku bekerja dengan cepat untuk menyerap dan menikmati semua itu,” tulisnya panjang lebar, seakan-akan semuanya masih begitu segar dalam memori otaknya.

“Hingga kini, aku selalu dihantui rasa berdosa akibat semua yang telah kulakukan. Aku merasa telah lama ternoda oleh diriku sendiri. Waktu sekolah dulu, aku sering minder di depan teman-teman yang menurutku normal dan bersih.” Sebuah icon :-( muncul lagi.

“Tapi syukurlah setelah kuliah aku diajak mengikuti pengajian di kampus yang akhirnya membuatku benar-benar kuat meninggalkan semua kebiasaan buruk itu. Sungguh, aku sangat takut jika tiba-tiba aku menyerah dan melakukannya lagi. Untunglah teman-teman di pengajian itu selalu menyemangatiku meski mereka tak tahu masa laluku,” tulisnya melanjutkan. Ah, syukurlah, dadaku mendadak terasa lebih lapang.

Tapi… cerita itu belum selesai.

“Kamu ingin tahu hubungannya dengan perceraianku?” Ia bertanya penuh pancingan, namun aku hanya menunggu penasaran.

“Suamiku suka mengoleksi majalah dan menonton film-film porno. Sesuatu yang sangat tidak aku duga sebelum kami menikah dulu. Dan ketika aku mengetahui hal itu, aku seperti diseret ke dalam sebuah labirin yang panjang sebelum akhirnya terhempas dalam kubangan masa laluku. Aku seperti disodorkan lagi pada sebuah kenyataan yang sangat buruk dan kubenci. Aku seakan dihantui bayangan-bayangan kelam yang menakutkan…,” lanjutnya getir, amat getir kurasa.

Ya, Tuhan, aku menelan ludah membayangkan perasaannya. Kurasakan mataku memanas, tak kuasa menahan iba.

“Aku adalah bukti dan hasil dari sebuah keteledoran orangtua yang suka melihat hal-hal cabul. Dan aku nggak mau anak-anakku mengalami hal yang sama. Jika sebuah foto saja bisa begitu hebat pengaruhnya pada jiwa dan perkembanganku, bagaimana dengan film atau video-video cabul? Pasti akan jauh lebih dahsyat. Bisa-bisa anakku dengan gampang melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya di usia belia. Na’udzubillahi min dzalik!” nada kalimatnya begitu bergelombang, penuh emosi. Sebagai sahabat, tentu aku merasakannya.

Sambil menahan agar air mataku tidak meleleh, kembali kutelan ludah yg menyekat. Berkali-kali aku menghela napas dalam-dalam untuk memberi ruang lebih bagi oksigen yang sejak tadi terasa sempit melewati paru-paruku.

Melintas bayangan dua buah hatiku yang masih balita, hatiku kian terenyuh. Sungguh, jangan sampai mental mereka diracuni oleh pornografi seperti yang dialami sahabatku ini. Mereka adalah amanah Allah yang harus kujaga, bagaimana kelak aku mempertanggungjawabkan mereka dihadapan Allah jika mereka justru rusak oleh kelalaianku sendiri. Oh, no!

Mendadak aku tersadar, inilah cermin bagiku, cermin bagi banyak orang tua, agar mereka berhati-hati menjaga buah hatinya. Jangan sampai akibat perilaku buruk orangtua, anak-anak lah yang jadi korbannya. Begitu pun ketika mendapati anak-anak berperilaku menyimpang, jangan buru-buru memarahi dan menyalahkannya, tapi segeralah bercermin dan lakukan introspeksi diri secara jujur. Orangtua tidak selalu benar, bukan?

“Aku sudah berkali-kali mengingatkan suamiku, mulai dari cara yang paling lembut, sampai cara paling ekstrim yang mampu kulakukan. Tapi dia selalu berkilah dengan sejuta alasan yang kadang sangat menyakitkan bagiku,” lanjutnya lagi dengan nada kecewa yang tak mampu ditutupi.

“Aku bukan orang yang pintar berdalil dengan ayat-ayat, Yaya. Tapi menurutmu, melihat orang berhubungan intim itu dosa, nggak? Jangankan melihat itu, melihat aurat orang lain saja nggak boleh, kan? Jangankan melihat orang berzina, melihat suami istri berhubungan intim saja dilarang, kan?” Kalimat-kalimat penuh tanya yang kurasa tak membutuhkan jawaban dariku.

“Sungguh, kamu kuat bisa melalui semua ini,” tulisku sungguh-sungguh.

“Ya, dan aku merasa sangat kuat ketika membawa anak-anakku pergi, bukan untuk memisahkan dari ayah kandung mereka tapi untuk menjauhkannya dari pengaruh buruk yang mungkin belum mereka sadari. Karena aku ingin rumah tempat anak-anakku tumbuh adalah rumah yang steril dari hal-hal seperti itu, demi melindungi jiwa dan masa depan mereka. Juga demi menghapus ingatanku dari trauma masa lalu.” Kali ini kalimatnya terdengar lebih tegar.

“Mungkin bagi suamiku belum cukup, tapi bagiku sudah cukup. Anak-anakku sudah semakin besar dan semakin mudah menyerap apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apa boleh buat, sebagai seorang ibu aku wajib melindungi anak-anakku. Mereka adalah amanah Allah. Dan aku bertanggung jawab kelak di hadapan Allah atas amanah yang kuterima. Jadi maaf jika akhirnya aku lebih memilih berpisah.” Kalimatnya semakin tegar dan yakin. Syukurlah, aku juga merasa semakin lega. Paru-paruku pun kian lancar dialiri oksigen.

Kami saling terdiam. Sesaat kemudian kami sama-sama melempar senyum di chat room, mewakili hati kami yang saling menguatkan dan mendoakan. Dia, sahabatku tercinta. Seorang sahabat yang kuat dan sangat pandai menyimpan cerita buruk masa lalunya selama puluhan tahun tanpa sempat terbaca sedikit pun olehku. Kini, ia pun menjadi cermin bagiku dalam melangkah. (V)

sumber: noviasyahidah.com

Jaring Maya yang Menyesatkan

Hujan gerimis membasahi satu sore menjelang malam di bulan Oktober. Di teras itu saya duduk bersamanya, seorang perempuan awal tiga puluhan. Wajahnya pucat dan cekung. Matanya sembab. Ia bukan lagi sosok ceria yang pernah saya kenal. Betapa derita telah menyedot kebahagiaannya. Di depan saya dia menjadi begitu rapuh.

“Mengapa laki-laki seperti itu, Mbak? Orang yang seharusnya membina dan membimbing keluarga, tega menyakiti hati istrinya? Meskipun hanya lewat facebook atau hp, disebut apa itu kalau bukan selingkuh? Yang ada dalam pikirannya hanya seks dan memikat perempuan. Aku nggak tahan lagi, Mbak. Ini sudah yang kesekian kalinya. Aku capek…,”lirih bibirnya berkata.

Saya terdiam. Hanya sanggup mengusap arus air yang jatuh dari matanya, mengalir di pipinya yang tirus.

“Untuk apakah pernikahan itu mbak? Apa artinya selain penjara bagi kami? Aku berjuang mengalahkan egoku untuk dia. Aku mengubur cita-citaku. Aku bekerja untuk membantunya menafkahi keluarga. Aku menjaga harta dan anak-anaknya. Aku melayaninya sekuat aku bisa di sisa-sisa tenagaku. Aku menjaga harga diri dan kehormatannya di depan orang. Aku tidak mau menyerewetinya begini terus, aku capek menjadi orang yang selalu mengomeli dia. Sekarang dia menganggap aku terlalu ikut campur urusannya. Allah.. mengapa dia tega??” jeritnya tertahan di sela isak tangisnya.

Tangisnya tiba-tiba meledak. Saya memeluknya. Angin berhenti bertiup. Pepohonan tak lagi menggesek dedaunannya, seakan menyelami perasaan seorang wanita yang sedang kehilangan sayapnya.

“Menangislah, Dek. Habiskanlah tangismu malam ini, hingga tak ada lagi sisa kemarahanmu esok. Anak-anak, wajah kamu yang akan mereka lihat esok. Untuk merekalah kau harus berjuang untuk hidup,” saya mencoba membuatnya bangkit.

Tampaknya topik anak menjadi hal yang sangat sensitif baginya. Tangisnya kian dalam di dada saya. Cakrawala membenamkan cahaya sore perlahan. Alam mendengarkan nyanyian cinta seorang istri kepada suaminya. Begitu halus dan manis. Namun mengapa justru suaminya tak dapat mendengar kasidah indah itu?

Tak sekali dua saya mendengarkan curhatan teman-teman tentang perilaku para suami. Sebenarnya saya tidak begitu suka, tetapi daripada mereka bercerita kepada orang tang tidak tepat, lebih baik saya sediakan telinga. Sesungguhnya perempuan hanya perlu didengarkan.

Paling banyak mereka mengeluhkan tentang selingkuhan. Sejak dari berteman terlalu akrab sampai pada perilaku seksual dengan orang selain istrinya. Kali ini teman saya ini bercerita tentang perilaku suaminya yang mulai aneh-aneh sejak aktif berinternet. Sejak ada internet di rumah, suaminya selalu nongkrong di depan komputer. Sampai akhirnya teman saya sendiri tertidur karena lelah seharian bekerja dan mengurus rumah. Mengajak suaminya untuk tidur bersama-sama pun sering ditampik. Mereka mulai jarang mengobrol. Suaminya asyik berinternet, dia sendiri sibuk dengan pekerjaan rumah dan anak-anak. Terkadang sampai menjelang subuh suaminya baru tidur. Pada handphone suaminya dia pun sering mendapati ada panggilan atau telepon yang dilakukan lewat tengah malam. Ketika nomor itu ditelepon kembali, ternyata suara di seberang adalah milik seorang perempuan.

Sebelumnya ia menemukan gambar-gambar yang tidak pantas dalam folder tersembunyi di komputer rumah mereka. Sakit hati sudah pasti. Ia yang dengan tegasnya menolak pornografi, memiliki suami yang menjadi konsumen pornografi. Naif. Sekali, dua, tiga, empat, dan sekian kali suaminya selalu minta maaf dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya. Lama-lama ia terbiasa meskipun sungguh tidak ingin.Menganggap istrinya baik hati, suaminya malah mulai berekperimen dengan hawa nafsunya: membuat ID facebook samaran untuk menggaet perempuan gampangan, terakhir ia mendapati suaminya melakukan virtual seks dengan perempuan melalui video call. Setan bertepuk tangan.

Menyakitkan.

Yah, bagi perempuan, apa lagi yang dapat dirasa? Terhina, malu, rendah diri, marah, putus asa, merasa dikhianati.

Teknologi tidak selalu membawa kebaikan bagi manusia. Semakin kuat, semakin rapuh pula ia. Teknologi ibarat pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk memotong sayuran, tetapi sekaligus dapat melukai jari kita sendiri. Dunia maya dan jejaring sosial di internet telah membuka ruang privat menjadi lebih luas daripada ruang umum. Karena itu, tak heran lagi bila kebanyakan selingkuh dimulai dari ruang-ruang tertutup itu. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga berlomba memenuhi hawa nafsunya di sana. Ada yang rela meninggalkan keluarganya demi kesenangan semu itu. Dipikirnya orang yang diajak berselingkuh lebih sesuai. Dia tidak menyadari bahwa setanlah yang telah menipunya.

“Ini ujian kenaikan tingkat untukmu, Dek. Allah sangat sayang kepadamu. Tak usahlah kita memikirkan hak. Bila suamimu tak sanggup memenuhinya, biar Allah yang mencukupkan. Ingatkan suamimu, ia sedang tersesat. Lihat apa yang belum sempurna kamu berikan kepadanya. Tak ada salahnya mencoba memperbaiki. Bersabarlah. Tak ada yang sempurna. Jika kamu tinggalkan dia, berarti kamu melepaskan ladang dakwah yang Allah berikan saat ini untukmu. Cinta itu memberi, tanpa menagih hasil. Kamu ingat kan, lilin yang habis lumat karena menerangi sekelilingnya? Kamu pasti bisa, Dek. Kamu hanya sedang tidak fokus dan terlalu sedih sekarang. Kamu bisa lalui ini. Kamu perempuan luar biasa,” saya menggenggam tangannya erat.

Seperti tersengat, tangisannya mulai reda. Saya tahu dia masih menyimpan semangat yang terkubur kepanikan dan kesedihan selama bertahun-tahun. Ia terdiam, memandangi daun melati air yang terangguk. Aliran air mata mulai terhenti menyisakan manik berkilau di matanya. Saya mengangkat wajahnya.

“Katakan kamu bisa! Kamu bisa menangis, mengapa tidak bisa tersenyum?” ujar saya.

Ia hanya menunduk. Tetapi tak ada lagi tangisnya. Saya mencolek hidungnya. Ia menatap saya lalu menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum tipis.

Ah, sahabat… dunia ini membahagiakan jika kau tahu pahitnya sedih. Menangislah jika kau ingin. Malam ini saja. Karena esok matahari akan membawamu menjadi dirimu yang baru. Berjanjilah untuk berjuang mencari jalan dari kebuntuan hidupmu. Jadilah lilin untuk keluarga dan masyarakatmu. Jangan pernah anggap dunia ini tak adil untukmu. Kehidupan abadi yang menyenangkan akan menjadi milikmu.

Untuk temanku yang mulai bermain dengan nafsumu, ketahuilah bahwa apa yang kau pegang adalah air laut yang terus merosot dari genggamanmu. Dan ketika kau minum airnya, dahagamu menjadi. Saat kau melihat orang lain lebih cantik/tampan dari istri/suamimu, mengapakah harus merasa istri/suamimu tidak seperti harapanmu? Kecantikan itu sesaat, harta itu sementara. Dan ketika semuanya hilang, kau punya apa?

Tak ada yang perlu diputus. Mengapa harus meninggalkan mereka? Kau merasa telah meninggalkan ketidaksempurnaan istri/ suamimu untuk sebuah kebahagiaan dalam sebuah kesempurnaan katamu? Aku katakah bahwa itu tipuan! Itu perselingkuhan! Tahukah kau, tak ada yang sempurna kecuali kau yang menanam kesempurnaan itu di hatimu. Dan kau mencari orang lain yang kau anggap bisa mengisi hatimu? Mengapakah? Dan kau mencari sejuta alasan untuk melegalisasi egomu? Untuk apakah?

Sahabatku, jika suami/istrimu menjadi sumber masalahmu, tak inginkah engkau bersabar? Kepada merekalah kamu bisa mencari sejumput rumbia untuk atapmu di dunia. Pada merekalah tersimpan kekuatan dirimu. Temukanlah. Jangan pernah katakan kau membenci istri/suamimu. Karena kepada merekalah kamu kembali di dunia, sejauh apa pun kau bisa berlari. Jangan pernah bakar jembatan di belakangmu, karena suatu hari mungkin kamu harus kembali. Arungi petualanganmu, tetapi ingatlah suatu saat kamu harus kembali. Kejarlah impianmu, tapi jangan lupa suatu hari kau harus menapak bumi.

Jika sekali kau merasa sakit, biar hujan yang menghapusnya. Maafmu akan memberi keajaiban di hatimu dan di hatinya. Jika kau pernah menyakiti hati suami/istrimu, jadilah pemberani untuk meminta maaf, mengakui kesalahan, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tak perlu putus asa, tak usah merasa tak mungkin. Cinta itu ada, tapi kau perlu bersabar. Cinta itu kau tanam, bukan cuma kau petik.

Dan bila kau telaten menanam cintamu, bila suatu saat tak ada yang bisa kau pegang di dunia ini, cinta akan mengisi ruang hatimu.

Kabar bagusnya, cinta itu akan membawamu menuju cinta yang hakiki di dunia abadi.

Hmmm... adakah itu artinya buatmu?

sumber: eramuslim.ubik.net

Kecanduan Onani

Bagaimana kalo urusannya karena kecanduan Onani ?

Sensasi nikmat (mirip rasa nyaman) sangat mudah didapatkan melalui seks seperti bacaan cabul, film porno, berciuman dsb. dan memang yang paling mudah dan murah didapatkan dengan cara memanipulasi tubuh yaitu onani.

Sejauh onani merupakan akibat dari stimulasi seksual internal (pikiran jorok ?) atau eksternal misal karena tidak tahan melihat pameran dada, masih termasuk kategori terkendali.

Namun jika kebutuhan onani sudah digunakan sebagai “sarana” lari dari masalah (berkompensasi) misal karena tidak tahan berinteraksi dengan sumber stress, sebaiknya dihilangkan pada kesempatan pertama. Karena bisa jadi setiap mengalami problem “kecemasan” (bukan disebabkan oleh rangsangan seksual), larinya ke onani.

Akibatnya yang bersangkutan akan tidak pernah memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk “belajar” mengatasi masalah, karena udah keburu dapat mainan yang menyenangkan, ketimbang belajar mengatasi masalah.

Inilah yang dikemudian hari berpotensi membuat ybs. tidak berani menghadapi masalah dan selalu lari dari masalah. Terus…kapan dewasanya dong …….

sumber: klinikservo.com

Kecanduan Orgasme ?

Seorang wanita berusia 30 tahun mengeluh ketika berhubungan dengan suami tidak dapat mencapai orgasme, bahkan suami ejakulasi lebih dahulu, sehingga terpaksa melakukan masturbasi sesudah berhubungan.

Ybs. beranggapan, kesulitan mencapai orgasme tersebut disebabkan oleh kebiasaan masturbasi yang hampir dilakukan setiap hari, sejak di bangku kuliah dan setiap kali masturbasi selalu disertai orgasme berkali-kali.

Kesulitan mencapai orgasme tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan kebiasaan onani, terbukti kepuasan tetap dapat dicapai, setelah melakukan masturbasi pasca berhubungan.

Tidak tercapainya orgasme saat berhubungan dengan suami lebih disebabkan oleh adanya kesenjangan antara hasil yang diinginkan (orgasme) dengan “kemampuan” yang dapat diberikan oleh suami. Belum lagi aktifitas masturbasi yang dilakukan sendiri memberikan rentang kendali yang lebih pasti dalam mencapai puncak dibanding hubungan yang melibatkan pasangan.

Sebaiknya hal tersebut di komunikasikan agar suami bersedia membantu sang istri mencapai puncak terlebih dahulu, baru kemudian dirinya. Namun jika hal tersebut malu untuk dibicarakan (berarti suami mengetahui kebiasaan masturbasi istri) maka tuntutan untuk selalu mencapai orgasme dapat diubah hanya sebagai pilihan (dapat diubah melalui terapi).

Tuntutan “harus” orgasme atau kecanduan orgasme tersebut, dapat disebabkan oleh adanya emosi yang terkunci pada peristiwa yang sangat nikmat seperti masturbasi setiap hari dan selalu orgasme berkali kali di masa lalu.

Onani Setiap Hari

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Langsung saja Kak Nono, saya seorang pelajar berusia 18 tahun. Tahu kan, saya saat ini sedang dalam masa puber. Saya kecanduan melakukan onani, dan melakukannya tiap hari. Saya berharap ada jalan keluar atas permasalahan ini. Apa yang mesti saya lakukan agar bisa terhindar dari perbuatan tercela ini?
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
S di Kota S

Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Onani adalah kegiatan seks yang banyak dilakukan kalangan pemuda. Banyak pandangan seputar masalah onani baik secara agama maupun kedokteran. Pengaruhnya berbeda antara satu orang dengan yang lain, baik secara fisik maupun kejiwaan. Motivasi orang melakukan onani juga bermacam-macam, mulai dari suka mengintip, menyaksikan gambar-gambar vulgar sampai karena keinginan untuk melakukan seks swalayan, karena tidak adanya pasangan atau untuk meredam syahwat yang meledak-ledak di dalam diri.

Kecanduan onani ini banyak terjadi di kalangan anak muda yang sedang berada di masa akil baligh dan belum menikah. Jika sudah melewati usia 20 an tahun tanpa pernah kecanduan onani, maka potensi kecanduan onani menjadi lebih kecil pada tahun-tahun berikutnya, karena syahwat berbeda-beda. Perhatian terhadap hal-hal lain menjadi bertambah, meski kecanduan terhadap onani ini terus berlanjut, pada sebagian orang yang sudah menikah.

Seksualitas yang muncul karena perasaan khawatir, tegang terkadang menimbulkan masalah kejiwaan. Onani bisa menimbulkan masalah yang sedang dan berat. Onani hanyalah upaya untuk menenangkan sesaat dan menipu syahwat. Di saat yang sama onani merupakan latihan kontinu dan teratur untuk memenuhi kebutuhan seks yang tidak dikehendaki. Sementara kebutuhan seks hanya terpenuhi oleh hubungan seks yang sempurna dan halal. Jadi, onani bisa menimbulkan masalah dari segi pelakunya ingin mengetengahkan solusi.

Memang benar bahwa seks merupakan obyek yang menonjol terlebih di masa remaja.Ini sesuatu yang normal dan sesuai dengan fase usia ini. Namun seks bukanlah satu-satunya yang harus mendapatkan perhatian. Jika menurut kita memalingkan seks pada usia seperti ini merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan tidak sehat, maka kita juga harus melihat bahwa perhatian pada masalah seks harus dalam kerangka ilmiah. Di sisi lain, membatasi diri untuk memikirkan masalah seks saja merupakan perilaku yang keluar dari batas normal. Islam tidak mengebiri seks, namun juga tidak membiarkannya tak terkendali layaknya nafsu binatang. Islam menyalurkan seks pada jalan yang paling baik dan menentramkan. Itulah jalan pernikahan. Tak ada cara lain dalam menyalurkan kebutuhan seksual kecuali di jalan tersebut.

sumber: majalah-elfata.com

ONANI VS PERASAAN BERDOSA

Rasanya sungguh sangat berdosa sekali..

Berkali-kali berjanji, namun berkali-kali juga mengingkari..

Masturbasi atau onani, ya inilah penyakit yang selama ini menyiksa batinku..

Bagaimana tidak, pada saat ON banget nafsu yang berbicara, namun saat telah usai, ada perasaan menyesal..

Semua dalam ketidakpastian, dari satu sisi ingin menghindari, di sisi lain juga membutuhkan..

Kalau melihat dari sejarahnya, aku sudah merasakan adanya syhwat pada diriku kalau tidak salah pada saat masih kelas 4 atau kelas 5 SD, aku kurang ingat tapi yang jelas saat itu aku belum disunat..

Pertama kali adalah pada saat mandi dan ada air “pancuran” kemudian secara tidak sengaja mengenai “adikku”, lalu kurasakan ada sensasi yang mengenakkan sehingga aku mengulanginya lagi, namun aku belum tahu apa artinya rasa enak itu..

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, maka aku mulai tahu gambar-gambar porno yang dibeli oleh kakakku. Aku melihat secara diam-diam dan akhirnya ketagihan. Sungguh kedua orang tuaku dan juga kakak-kakakku tidak mengetahui bahwa aku telah melihat gambar yang tidak sepetutnya dilihat oleh anak seumuranku..

Tapi itu tidak menjadi masalah, aku pun masih bersikap sebagaimana anak-anak lainnya, tidak ada perubahan yang menonjol pada diriku, bahkan aku masih terlihat seperti anak “alim” dan cerdas..

Setiap kali setelah melakukakan onani, setelah itu pula aku merasakan penyesalan yang amat sangat, kemudian berusaha berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi. Kenapa menyesal, karena aku tahu bahwa ada yang salah dalam kebiasaanku ini(beronani), dari sudut pandang agama, pastilah tidak boleh hukumnya melihat gambar-gambar yang menimbulkan syahwat, padahal aku tidak bisa beronani kalau tidak ada gambar atau sejenisnya..

Sungguh aku ingin kekuar dari ini semua, karena sampai saat ini kebiasaan ini masih saja menghantuiku..

Oleh karena sebab itulah aku berani menulis di BLOG ini sebagai pengingat bahwa perbuatanku ini salah, aku harus segera memperbaikinya. Biarkan orang yang membaca ini tahu dan akhirnya aku menjadi malu karena aibku telah diketahui banyak orang dan aku tidak akan berani mengulanginya lagi..

Berbagai cara dan kesibukan telah aku coba, namun hasilnya mengecewakan, paling lama seminggu pasti aku akan tidak kuat..

Tapi insyaallah tekad ini sudah kuat, hanya mengharap masukan saja dari para sahabat sekalian agar saya bisa terbebas dari ketergantungan onani dan perasaan bersalah ini..

Ya Aku Pasti Bisa..

PASTI BISA

sumber: bocahbancar.wordpress.com

Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka

Pidato Kebudayaan Oleh: Taufiq Ismail
IPB, 9 Januari 2007.

Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ---- ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. “Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan.” Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten.

Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan “gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan.”

Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½ sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: “Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta – 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD, kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah.

Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab ‘karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya.’ Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP.

Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya.

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalau cerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya.” Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini.

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis-syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang.

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya “vagina yang haus sperma”. Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari. Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, “This is my body. I’ll do whatever I like with my body.” “Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini.” Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu. Penutup Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet-dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.***

Saat Akhwat Kewalahan Menahan Syahwat

Pertanyaan
Pak Shodiq, saya ingin mencari jalan keluar. Dulu, pertama kali saya pacaran, saya tidak bisa mengontrol diri. Begitu banyak setan yang menggoda. Saya mulai mengenal ciuman, saling raba, dan jadi ketagihan. Saya merasa tidak tenang karena tahu itu salah. Akhirnya saya memutuskan hubungan.

Lalu setelah menjadi aktivis tarbiyah, ada lagi yang mendekati saya. Dia sesama kader tarbiyah. Kami pun diam-diam pacaran sampai beberapa bulan. Lagi-lagi saya tidak dapat menahan gejolak muda, bahkan lebih parah. Kami pun putus karena merasa sangat tidak nyaman. Itu yang kedua.

Tidak lama berselang, saya mulai didekati lagi oleh seorang aktivis dakwah. Awalnya saya hanya kagum, namun kemudian saya pacaran juga dengannya. Ternyata dia pun termasuk orang yang susah menahan nafsu syahwat, sehingga kami melakukan perbuatan yang sangat memalukan sebagai aktivis dakwah. Saya akhirnya putus dengannya. Itu yang ketiga.

Beberapa waktu kemudian, saya didekati oleh teman saya. Saya pun menerima cintanya, tetapi lagi-lagi perbuatan memalukan itu terjadi, bahkan mencapai “puncak” (hampir melakukan hubungan seksual, namun urung karena saya takut). Kami pun jadi ketagihan. (Saya tidak ingin mendekskripsikan apa yang saya lakukan. Saya sendiri malu untuk mengingatnya. Saya merasa benar-benar berlumur dosa yang menggunung.) Akhirnya, saya juga putus dengannya. Itu yang keempat.

Setelah empat kali mengalami pengalaman memalukan itu, saya sempat berfikir tidak mau menikah karena kasihan dengan suami saya nanti. Namun entah mengapa, gejolak ingin menikah begitu besar dalam diri saya. Saya pun tidak tenang, lalu memberanikan diri untuk berta’aruf dengan seorang ikhwan melalui bantuan murobbi.

Tak lama kemudian, alhamdulillah, si ikhwan mengatakan ingin menjadikan saya istrinya secepatnya. Saya merasa senang. Saya tidak ingin melakukan hal yang sama seperti dulu, Pak. Saya takut pacaran. (Memang dari dulu saya diberi pemahaman bahwa pacaran itu tidak boleh, tapi saya tetap saja melakukannya secara diam-diam.)

Meskipun ingin menikah secepatnya, ternyata si ikhwan masih membutuhkan waktu untuk persiapan nikah. Saya jadi bimbang. Di tengah kebimbangan, saya menemukan blog bapak yang menulis mengenai pacaran islami. Lantas saya mengusulkan kepada si ikhwan untuk pacaran secara islami sebagai langkah persiapan menuju pernikahan.

Dia sependapat dengan saya. Bismillah, jadilah dia imam saya dalam pacaran islami ini.

Dia tidak pernah dan tidak mau menyentuh saya sedikit pun sebelum “waktunya”. Saya jadi merasa dihargai.

Kami jarang ketemu. Saat dilanda kerinduan, kami hanya mengobatinya dengan komunikasi melalui handphone. Saya pikir, kalau ketemu langsung saat kangen, bisa-bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Menurut bapak, apakah yang saya lakukan terakhir itu sudah tepat? Saya benar-benar ingin bertobat, pak.

Semoga Allah memberi bapak kelapangan waktu sehingga berkenan membaca dan membalas email ini. Alhamdulillah, saya sering membaca postingan bapak. Banyak hikmah yang saya peroleh sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi diri. Terima kasih, pak.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Pertama, aku pun berterima kasih telah dipercaya untuk turut menyampaikan pendapat dalam rangka menyelesaikan persoalanmu. Kedua, aku mohon dimaklumi bahwa eMailmu yang kukutip di sini telah aku edit seperlunya. Aku hapus informasi-informasi tertentu yang dapat menunjukkan identitas dirimu. Dengan demikian, aku yakin kehormatanmu tetap terjaga.

Aku mengasumsikan bahwa curhatmu sudah lengkap, tak ada yang kututup-tutupi. Dengan asumsi ini, jawabanku atas pertanyaanmu adalah: Ya, sikapmu yang terakhir itu sudah tepat. (Lihat “Mengapa Sengaja Jauh di Mata“.) Namun, jawaban “sudah tepat” itu belum memadai. Aku masih perlu menambahkan beberapa catatan yang perlu kau perhatikan:

1. Ketika kalian berkomunikasi dengan media, utamakanlah media tulisan (SMS, eMail, dsb.) daripada audio-visual (telepon, video calling, dsb.). Sebab, nafsu birahi lebih mudah terangsang melalui audio-visual daripada tulisan.
2. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bersentuhan dengan pria nonmuhrim, baik dengan pacarmu maupun dengan orang lain. (Lihat “Mengapa Wanita Mudah Terangsang…“)
3. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bertemu dengan pacar, kecuali kalau ada orang lain yang mengawasi kalian, sehingga kalian tak mungkin bersentuhan.
4. Mohonlah bantuan kepada Allah supaya terjaga dari zina, misalnya dengan berdoa/berzikir yang relevan seperti yang kupaparkan dalam Bab 18 di buku Doa & Zikir Cinta.
5. Kerahkanlah jurus-jurus penangkal zina.
6. …. (yang ini bersifat pribadi, lewat eMail aja, ya!)

Wallaahu a’lam.

sumber: shodiq.com

TERJERAT KEBIASAN BERONANI/MASTURBASI

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan.

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Saya seorang pelajar muslim (selama ini) saya terjerat oleh kabiasaan onani/masturbasi. Saya diombang-ambingkan oleh dorongan hawa nafsu sampai berlebih-lebihan melakukannya. Akibatnya saya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama. Saat ini, saya berusaha sekuat tenaga (untuk menghentikannya). Hanya saja, saya seringkali gagal. Terkadang setelah melakukan shalat witir di malam hari, pada saat tidur saya melakukannya. Apakah shalat yang saya kerjakan itu diterima ? Haruskah saya mengqadha shalat ? Lantas, apa hukum onani ? Perlu diketahui, saya melakukan onani biasanya setelah menonton televisi atau video.

Jawaban

Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki” [Al-Mu’minun 5-6]

Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda.

“Artinya : Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya” [1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.

Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.

Seorang muslim seyogyanya (senantiasa) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.

Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan onani, maka onani itulah yang diharamkan –anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syari’at, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh syirik atau murtad –kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya tetap berdosa.

[Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan IV/273-274]

Bagaimana Upaya Hilangkan Kebiasaan Onani

Konsultasi bersama Al-Ustadz Haji Muhammad Jamhuri, Lc

Pertanyaan
Assalamualaikum Pak Muhammad tolong pertanyaan ini dijawab dan di balas ke email saya, setelah membaca artikel tentang onani saya jadi tahu ternyata onani itu haram, tapi yang jadi masalahnya saya telah memiki kebiasaan onani sejak kecil, berat sekali rasanya untuk berhenti pernah saya mencoba berhenti berkali-kali tapi gagal terus. saya sempat berpikir lebih baik saya menikah saja agar tidak terus-terusan dalam maksiat, namun semua itu terbantahkan karena orangtua saya belum mengizinkan saya menikah karena saya masih kuliah dan belum punya pekerjaan, saya ingin menjeaskan alasan saya menikah agar tidak onani lagi tapi saya malu. Saya bingung pak, setiap kali berusaha tobat suatu saat pasti keinginan itu muncul lagi dan terus berulang, saya benar-benar bingung. tolong rahasiakan email saya

Tertanda,
Joko
Pertanyaan senada juga disampaikan oleh Indra

Jawaban
Berusaha untuk selalu di jalan Allah dengan menghindari maksiat berupa onani adalah sifat terpuji. Jika usaha kearah itu dilakukan secara sungguh-sungguh, maka insya Allah, Allah akan membantunya dan memberikan jalan-jalannya. Sebagaimana firmana Allah SWT:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Salah satu cara untuk mencapai tujuan di atas adalah dengan memohon pertolongan Allah SWT agar diberi kekuatan untuk meninggalkan maksiat dan dapat beribadah sebaik mungkin kepada Allah SWT. Bukankah saat Muadzin mengumandangkan lafadz “Hayya ‘alas Sholah” (marilah melaksanakan sholat), kita menjawabnya dengan lafadz “Laa Haula wa Laa Quwwata illa billah” (tiada daya dan upaya kecuali milik Allah SWT)? Hal ini berarti kita tidak mempunyai kekuatan dan daya untuk memenuhi panggilan sholat kecuali dengan daya dan kekuatan dari Allah kepada kita untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, Nabi saw saja masih memohon kepada Allah agar diberi pertolongan untuk dapat melaksanakan ibadah dan ingat kepada Allah dengan yang terbaik mungkin, dengan lafadz doanya:


اللهم أعني على ذكرك و شكرك وحسن عبادتك

“Ya Allah, bantulah aku untuk dapat mengingatMu, mensyukuri-Mu dan beribadah yang terbaik kepada-Mu”

Oleh karena itu, dalam usaha agar kita dapat meninggalkan kebiasaan tak terpuji, selayaknya, selain bertuabat, kita juga harus memohon bantuan dan pertolongan Allah agar kita terhindar dari kebiasaan buruk tersebut.

Upaya lain yang dapat menghilangkan kebiasaan buruk berupa onani adalah dengan cara berpuasa. Sebab puasa akan mengurangi berlebihnya syahwat. Rasulullah saw bersabda:


يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian para pemuda, jika engkau telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah menikah, karena menikah itu dapat memelihara pandangan dan membentengi kemaluan (dari berbuat maksiat). Dan jika tidak mempunyai kemampuan (menikah), maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu adalah benteng” (HR: Muslim)

Upaya lain yang mungkin bisa dilakukan untuk menghindari dari perbuatan buruk onani dengan cara menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas. Jika Anda seorang mahasiswa, maka aktiflah dengan mata kuliah Anda, belajar dan meneliti sungguh-sungguh mata kuliah Anda, rajinlah menghabiskan waktu di perpustakaan, aktif dan bergabunglah dengan organisasi intra dan ektra kampus, terutama organisasi yang bernuansa Islami. Dengan menyibukkan diri pada kegiatan studi, penelitian dan aktif di kegiatan organisasi itu, maka pikiran-pikiran untuk melakukan kebiasaan buruk tersebut akan berkurang.

Selain itu, rajin berolah raga pun akan membantu menghilangkan pikiran-pikiran buruk, karena fisik dan sel-sel tubuh kita terbakar dengan aktif berolah raga.

Selain itu juga, hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah dengan sering mengingat Allah dan hari qiyamat di mana pun kita berada. Karena dengan begitu, kita akan takut pada Allah yang selalu melihat kita, baik di tempat terbuka maupun di tempat tersembunyi. Mengingat akhirat (hari qiayamat) dapat mengurangi keinginan melampiaskan nikmat hawa nafsu sesaat. Karena kenikmatan abadi hanya ada di akhirat. Bayangkan jika di sana kita malah masuk neraka gara-gara kemaksiatan yang kita lakukan di dunia. Saking pentingnnya mengingat dan beriman kepada Allah dan hari akhirat, hingga Allah sering menyebut berkali-kali kalimat:

بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“(beriman) kepada Allah dan hari akhir”

Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowab

sumber : http://www.muhammadjamhuri.blogspot.com/