Rabu, 23 Desember 2009
Tragis, Kematian Para Bintang Porno
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Surat dari "BEKAS ARTIS PORNO" untuk para pria
Gadis cantik, bertubuh seksi dan mata yang membangkitkan gairah seakan-akan berkata “i want You“. Itu kesan yang terlihat di setiap sampul film porno. Tapi, bisa jadi itulah tipuan terbesar sepanjang masa.
Inilah kisah dan pengakuan Shelley Luben tentang masa buruk dan seluk beluk industri maksiat itu. Tulisan ini diturunkan sebagai pelajaran bagi kita semua. Terutama para aktivis yang “menurut mata” terhadap dampak industri pornografi.
Percayalah, Aku tahu
“Aku dulu pernah melakukannya sepanjang waktu dan aku melakukannnya karena.
Nafsuku akan kekuasaan dan kecintaanku kepada uang. Aku tidak pernah menyukai seks. Bahkan Aku tidak menginginkannya dan faktanya aku lebih banyak minum Jack Daniels (jenis minuman alkohol import original. Sejenis Jhonny Walke yang juga masuk Indonesia, red) daripada bersama para pria yang dibayar seperti aku untuk “berpura-pura” di film.
Ya Benar tidak ada diantara kami –gadis-gadis blonde yang menyukai being in porn movie. Kami benci disentuh oleh orang asing yang sama sekali tidak peduli dengan kami. Kami benci dianggap rendah oleh mereka, laki-laki dengan keringat dan bau busuknya. Beberapa diantara kami sering sampai muntah di kamar mandi saat break syuting. Sedangkan yang lainnya berusaha menenangkan diri dengan merokok Marlboro tanpa henti.
Tapi porn industry (industri pornografi) ingin agar kamu selalu berpikir kalau kami artis porno sangat menyukai seks. Mereka ingin kamu percaya bahwa kami senang dilecehkan seperti binatang dalam berbagai jenis adegan di film.
Kenyataannya, artis porno sering tidak tahu apa saja adegan yang akan mereka lakukan saat pertama kali datang ke lokasi syuting dan kami hanya diberi dua pilihan oleh produser: “Lakukan atau Pulang Tanpa Bayaran. Kerja atau tidak akan bisa kerja lagi.”
Iya memang benar kami punya pilihan.
Beberapa diantara kami memang sangat memerlukan uang. Tapi kami dimanipulasi, dipaksa bahkan diancam.
Beberapa diantara kami terjangkit AIDS karena profesi ini. Atau tertular herpes dan berbagai macam penyakit kelamin lain yang sukar disembuhkan. Salah seorang artis film porno setelah syuting dengan menahan sakit sepanjang hari setelah sampai dirumah menembak kepalanya dengan pistol.
Kebanyakan dari artis porno mungkin berasal dari keluarga yang berantakan dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari keluarga atau tetangganya sendiri. Saat kami kecil kami hanya ingin bermain dengan boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki dewasa berada diatas tubuh kami.
Jadi sejak kecil kami belajar bahwa seks bisa membuat kami berharga. Dan dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.
Karena trauma itu kebanyakan artis porno hidupnya tergantung kepada alkohol dan narkotika. Dan hidup kami juga selalu diliputi ketakutan akan terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya seperti; Herpes, gonorrhea, syphilis, chlamydia, dll. setiap hari menghantui kami.
Menurut catatan Shelley dalam situs web nya. Sebelas bintang pornografi pornografi mati akibat HIV, bunuh diri, pembunuhan dan obat pada tahun 2007. Antara 2003 dan 2005, 976 orang pemain dilaporkan dengan 1.153 hasil positif STD. 66% dari pemain pornografi terkena Herpes, penyakit yang tak dapat disembuhkan.
Memang setiap bulan kami diperiksa tapi kamu tahu, kalau hal tersebut tidak akan bisa mencegah kami tertular penyakit-penyakit mematikan itu. Selain penyakit, adegan syuting tidak kalah mengerikannya, banyak dari kami mengalami luka sobek atau luka pada organ tubuh bagian dalam kami.
Diluar syuting kami sering berharap bisa menjalani hidup yang normal. Tapi sangat sulit menjalin hubungan yang normal dengan laki-laki ‘biasa’, maka dari itu kebanyakan dari kami menikah dengan sutradara film porno atau menjalani hidup sebagai lesbian.
Buat aku, momen yang tidak akan terlupakan adalah ketika tanpa sengaja anak perempuanku melihat ibunya yang telanjang sedang berciuman dengan gadis lain. Anakku pasti akan terus mengingatnya juga.
Pada hari yang lain kami bisa berubah seperti zombie dengan botol bir di tangan kanan dan gelas wisky di tangan kiri. Kami tidak suka bersih-bersih jadi sering kali kami harus menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran kami. Selain itu artis porno benci memasak sendiri. Biasanya kami memesan makanan yang kemudian kami muntahkan lagi karena kebanyakan dari kami menderita bulimia, semacam gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan.
Bagi artis porno yang memiliki anak, kami adalah ibu yang paling buruk. Kami menjerit dan bahkan memukul anak kami tanpa alasan. Seringkali saat kami begitu mabuknya sampai-sampai anak kami yang berumur 4 tahun yang menyeret kami dari lantai. Dan ketika ada tamu (kebanyakan karena alasan seks) kami harus mengunci anak kami terlebih dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam.
Kalau aku biasa membekali anak gadisku dengan pager dan kusuruh dia menungguku di taman sampai aku selesai dengan tamuku.”
Semua Tipuan…
“Kalau kamu bisa melihat lebih dalam kehidupan artis film porno mungkin kamu akan kehilangan minat menonton film porno. Kenyataan sebenarnya kami artis film porno ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.
Kami berharap kalian kaum pria membantu kami, memperjuangkan kebebasan dan kehormatan kami. Kami ingin kalian memeluk kami saat kami menghapus air mata dan menyembuhkan luka di hati kami. Kami berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.
Industri film porno tidak lebih dari “seks palsu” dan “tipuan kamera”. Percayalah…….!
sumber: hidayatullah.com
kunjungi juga situs : shelleylubben.com , situs ini milik mantan artis film porno
Inilah kisah dan pengakuan Shelley Luben tentang masa buruk dan seluk beluk industri maksiat itu. Tulisan ini diturunkan sebagai pelajaran bagi kita semua. Terutama para aktivis yang “menurut mata” terhadap dampak industri pornografi.
Percayalah, Aku tahu
“Aku dulu pernah melakukannya sepanjang waktu dan aku melakukannnya karena.
Nafsuku akan kekuasaan dan kecintaanku kepada uang. Aku tidak pernah menyukai seks. Bahkan Aku tidak menginginkannya dan faktanya aku lebih banyak minum Jack Daniels (jenis minuman alkohol import original. Sejenis Jhonny Walke yang juga masuk Indonesia, red) daripada bersama para pria yang dibayar seperti aku untuk “berpura-pura” di film.
Ya Benar tidak ada diantara kami –gadis-gadis blonde yang menyukai being in porn movie. Kami benci disentuh oleh orang asing yang sama sekali tidak peduli dengan kami. Kami benci dianggap rendah oleh mereka, laki-laki dengan keringat dan bau busuknya. Beberapa diantara kami sering sampai muntah di kamar mandi saat break syuting. Sedangkan yang lainnya berusaha menenangkan diri dengan merokok Marlboro tanpa henti.
Tapi porn industry (industri pornografi) ingin agar kamu selalu berpikir kalau kami artis porno sangat menyukai seks. Mereka ingin kamu percaya bahwa kami senang dilecehkan seperti binatang dalam berbagai jenis adegan di film.
Kenyataannya, artis porno sering tidak tahu apa saja adegan yang akan mereka lakukan saat pertama kali datang ke lokasi syuting dan kami hanya diberi dua pilihan oleh produser: “Lakukan atau Pulang Tanpa Bayaran. Kerja atau tidak akan bisa kerja lagi.”
Iya memang benar kami punya pilihan.
Beberapa diantara kami memang sangat memerlukan uang. Tapi kami dimanipulasi, dipaksa bahkan diancam.
Beberapa diantara kami terjangkit AIDS karena profesi ini. Atau tertular herpes dan berbagai macam penyakit kelamin lain yang sukar disembuhkan. Salah seorang artis film porno setelah syuting dengan menahan sakit sepanjang hari setelah sampai dirumah menembak kepalanya dengan pistol.
Kebanyakan dari artis porno mungkin berasal dari keluarga yang berantakan dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari keluarga atau tetangganya sendiri. Saat kami kecil kami hanya ingin bermain dengan boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki dewasa berada diatas tubuh kami.
Jadi sejak kecil kami belajar bahwa seks bisa membuat kami berharga. Dan dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.
Karena trauma itu kebanyakan artis porno hidupnya tergantung kepada alkohol dan narkotika. Dan hidup kami juga selalu diliputi ketakutan akan terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya seperti; Herpes, gonorrhea, syphilis, chlamydia, dll. setiap hari menghantui kami.
Menurut catatan Shelley dalam situs web nya. Sebelas bintang pornografi pornografi mati akibat HIV, bunuh diri, pembunuhan dan obat pada tahun 2007. Antara 2003 dan 2005, 976 orang pemain dilaporkan dengan 1.153 hasil positif STD. 66% dari pemain pornografi terkena Herpes, penyakit yang tak dapat disembuhkan.
Memang setiap bulan kami diperiksa tapi kamu tahu, kalau hal tersebut tidak akan bisa mencegah kami tertular penyakit-penyakit mematikan itu. Selain penyakit, adegan syuting tidak kalah mengerikannya, banyak dari kami mengalami luka sobek atau luka pada organ tubuh bagian dalam kami.
Diluar syuting kami sering berharap bisa menjalani hidup yang normal. Tapi sangat sulit menjalin hubungan yang normal dengan laki-laki ‘biasa’, maka dari itu kebanyakan dari kami menikah dengan sutradara film porno atau menjalani hidup sebagai lesbian.
Buat aku, momen yang tidak akan terlupakan adalah ketika tanpa sengaja anak perempuanku melihat ibunya yang telanjang sedang berciuman dengan gadis lain. Anakku pasti akan terus mengingatnya juga.
Pada hari yang lain kami bisa berubah seperti zombie dengan botol bir di tangan kanan dan gelas wisky di tangan kiri. Kami tidak suka bersih-bersih jadi sering kali kami harus menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran kami. Selain itu artis porno benci memasak sendiri. Biasanya kami memesan makanan yang kemudian kami muntahkan lagi karena kebanyakan dari kami menderita bulimia, semacam gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan.
Bagi artis porno yang memiliki anak, kami adalah ibu yang paling buruk. Kami menjerit dan bahkan memukul anak kami tanpa alasan. Seringkali saat kami begitu mabuknya sampai-sampai anak kami yang berumur 4 tahun yang menyeret kami dari lantai. Dan ketika ada tamu (kebanyakan karena alasan seks) kami harus mengunci anak kami terlebih dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam.
Kalau aku biasa membekali anak gadisku dengan pager dan kusuruh dia menungguku di taman sampai aku selesai dengan tamuku.”
Semua Tipuan…
“Kalau kamu bisa melihat lebih dalam kehidupan artis film porno mungkin kamu akan kehilangan minat menonton film porno. Kenyataan sebenarnya kami artis film porno ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.
Kami berharap kalian kaum pria membantu kami, memperjuangkan kebebasan dan kehormatan kami. Kami ingin kalian memeluk kami saat kami menghapus air mata dan menyembuhkan luka di hati kami. Kami berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.
Industri film porno tidak lebih dari “seks palsu” dan “tipuan kamera”. Percayalah…….!
sumber: hidayatullah.com
kunjungi juga situs : shelleylubben.com , situs ini milik mantan artis film porno
7 Alasan Kenapa Kamu Jangan Jadi BINTANG FILM PORNO !!! (Buat Kaum Pria)
Ditulis oleh aktor film porno yg namanya dirahasiakan
…. dan bukan gw !
Hai, aku bintang filem porno dan ini menyebalkan ! Aku tahu yg mungkin kalian semua pikirkan,
“Sialan lo, k**tol lo udah gede gitu ditambah lagi dibayar buat ng**tot masih aja protes !”
Emang benar, tapi menjadi “profesional” itu tidak seperti bayangan kalian. Aku udah menekuni perkerjaan ini hampir 2 tahun, mengalami banyak hal lucu, menggairahkan dan banyak ( paling banyak ) pengalaman buruk. Dibawah ini aku membuat daftar “7 Hal Paling Utama Kenapa Kamu Jangan Menjadi Aktor Film Porno”.
Tapi sebelumnya aku mau bilang, emang sih pada umumnya pekerjaanku ini sangat hot dan “kinky”, tapi urusan “baut vs mur” (tau kan artinya apa) dan hari-hari penuh perjuangan untuk tetap bertahan di “Porn Industry” bisa membuat seorang pria melemah ( dan menjadi “lemah” bisa merugikan kalo kamu berada di dalam industri ini, percayalah ! Ada di alasan no. 2 ).
Jadi kenapa aku mau kerja beginian ? Uang iya, tapi gak banyak dan kemudian ada sex nya. Tapi mungkin alasan utama aku melakukannya adalah karena aku “bisa” – tidak banyak orang yg bisa “tampil” dengan lampu sorot terang, kru kamera dan sutradara cerewet yg terus-terusan teriak “Fuck her harder !” Dan jujur saja bekerja di Dunkin’ Donuts (aku pernah bekerja disitu) situasinya jauh lebih baik.
Tapi, untuk sementara ini aku akan berjuang melakukan ini meski berat. Dan inilah alasan kenapa kamu harus berpikir seribu kali sebelum terjun menjadi aktor film porno:
ALASAN #1. Kamu Harus Ngesex
Ya kedengeran emang gila – jadi binteng pilem porno kan emang harus ngen**t. Tapi coba kamu pikirin : Mungkin kamu tu orang yg hampir selalu horny (seperti aku) tapi itu kan gk berarti kamu kepingin ngen**tin orang sepanjang hari ! Kita laki-laki cuma ngesex kalo emang udah kepingin banget, kan ? Bukan saat ada orang lain yg bilang “time to fuck” katakanlah pada pukul 2 siang saat kita ngantuk & laper. Akan ada kira-kira 8 orang didalam ruang syuting – kamu, sutradara, artis cewek yg akan kamu “eksekusi”, kameramen, petugas lampu, tukang make up dan beberapa laki-laki yg bahkan kamu gak tau siapa dan ngapain mereka disitu – dan tiba-tiba waktunya kamu harus nge**ot ! Kamera… Action… oke deh
ALASAN #2. Kamu Gak Bisa Bangunin Assetmu
Mimpi buruk setiap laki-laki ini biasa terjadi di lokasi syuting film bokep. Emang sih ada Viagra dan Cialis yg selalu tersedia. Tapi ada efek samping kalau terus-2 an minum obat-obatan ini, yaitu efek toleransi tubuh. Jadi tubuhmu akan kebal kalo kamu terlalu banyak pakai obat-2an ini. Dan setelah beberapa waktu walaupun kamu nelan segepok pil-pil ini gak akan terjadi apa-apa pada “bagian bawahmu”. Trus bagaimana dong ? Suntik penismu ( ya, dengan jarum ) dengan semacam cairan tertentu yg bisa membuat “senjatamu” langsung berdiri tegak – efeknya satu, bagian bawah penismu akan banyak terdapat lubang-2 bekas jarum suntik. Dan bagaimana jika kamu tergolong orang yg takut jarum suntik ? Jangan khawatir deh, selalu ada orang yg akan membantu… dan biasanya laki-laki
ALASAN #3. Bayaran Aktor Pria Jauh Lebih Kecil Daripada Artis Porno Cewek
Biasanya bayaran artis wanita berkisar antara $800 sampai $2.000 tiap scene-nya, tergantung dari berapa banyak aktor pria yg dia “layani”, dan jenis adegan apa yg dijalankan ( double penetration, threesome, deep throat, anal, cream pie dll ). Kalo bayaran kita para lelaki berapa ? Rata-rata $200 ! Ya benar cuma segitu… walaupun kita dapet duitnya setelah ngesex ama bintang porno yg cantik-2 tapi tetep aja sampe rumah kita harus bayar segala macem tagihan bulanan. Jadi kebanyakan dari kita selalu punya profesi sampingan… seperti jadi waiter atau tukang parkir
ALASAN #4. Kamu Harus Jago “Menembak”
Saat tiba pada adegan “money shot” atau “cum shot” sutradara hampir selalu menginginkan agar kamu menyiram tepat di wajah si cewek. Tidak ada yg lebih buruk dari ketika lagi adegan hot lalu disaat terakhir, terakhir sekali dengan artis cewe cantik berlutut didepanmu dengan mulut terbuka menanti kehadiran sperma mu dan CROT ! Kamu terlalu bersemangat sehingga cairanmu malah terbang melayang mengenai tembok didepanmu ato kamu udah capek dan bukannya nyembur tapi spermamu malah netes-2 kaya ingus. Lalu CUT ! Si Sutradara akan minta agar kamu mengulangi adegan tadi, dan kalo kamu udah lemes mereka akan menggantimu dengan orang lain yg pistol gombyoknya masih penuh amunisi. Egois banget kan !
ALASAN #5. Kamu Gak Selera Dengan Partner Mainmu
Mungkin sebagian besar dari kalian belum pernah menyentuh payudara hasil operasi plastik. Apalagi yg diisi dengan silicon dengan ukuran hampir seperti bola sepak itu. Kalo kamu pas apes dan salah satu dari “pepaya bangkok” menghantam kepalamu… rasanya sakit banget bro ! Mungkin kamu suka cewe yg langsing atau putih tapi kalo yg sedang kamu ent*t di film itu chubby dan item atau terlalu ceking dan ngingetin kamu dengan saudara perempuanmu – kamu tau kan maksudnya. Gak penting apakah kamu MEMBENCI wajah, bau atau rasa dari artis porno partnermu – kamu harus tetap dengan semangat ngen**t in dia atau kamu akan tergusur dengan predikat “sulit diajak bekerja sama” atau “pemilih” dan akhirnya gak ada lg yg manggil kamu untuk ikutan casting.
Ini benar-2 harus kamu perhatikan , kamu harus punya mental yg sangat kuat ( dan punya bakat lebih dalam berfantasi membayangkan orang lain ) untuk mengatasi masalah ini.
ALASAN #6. Kamu Harus Punya Toleransi Yang Luar Biasa
Mungkin kamu akan beradegan threesome dengan aktor pria lain dan satu artis cewek atau kamu harus ngelakuin double penetration dengan kemungkinan 100% penismu akan bersentuhan dengan kon**l rekan mainmu. Atau kamu bakalan gak nyaman saat juru kamera bersandar di bahumu untuk bisa mendapatkan gambar terbaik saat si artis lagi mengulum “bijimu”. Gak suka anal sex ? Sayang sekali. Gak suka jilatin me**k ? Wah berat men ! Dan juga bayangin kalo kamu harus menggendong si artis bagai Superman ( adegan di tembok, diatas sofa, diatas tangga…. ) Mereka sama sekali tidak ingin mendengar kamu komplain. LAKUKAN atau enyah dari sini…. Kita bisa nyari orang lain !
ALASAN #7. Partner Mainmu Gak Sengaja Menyakiti “Assetmu”
Inget ya bro… partner mainmu jg kepingin terlihat “panas”, tampil penuh nafsu ( karir dan penghasilannya kan juga tergantung dengan ini ). Jadi dia akan menggigit penismu, ngocok terlalu keras dan cepat, ngisep biji-bijianmu dan memutar-mutarnya seperti lagi menggiling daging mentah untuk dijadiin hamburger. Dan berbagai macam jenis siksaan lainnya. Gak mungkin kamu ngomong kalo kesakitan ke partnermu karena mungkin rekan mainmu itu juga lagi kesakitan habis kamu bor dengan senjatamu yg barusan disuntik obat hingga mati rasa. Sutradara jelas bukan orang yg mau bersimpati ama kamu, kru yg lain juga gk akan peduli dengan perasaanmu. Dan ada lagi yg namanya “Angle” atau sudut pengambilan gambar.
Ingat ini… ANGLE. Dari sisi samping, atas, bawah dan sudut-sudut gak normal lainnya yg pada intinya agar kamera bisa mengambil adegan utama dari film porno… Penis Masuk Ke Vagina ! Apa yg terasa bagus dalam hubungan sex normal seringkali tidak baik untuk film jadi seringkali kamu harus bergaya bagai pesenam olimpiade saat disyuting, dan kebanyakan… rasanya sakit. Kadang-kadang rasanya penismu akan patah ! Dan kamu harus tetep melakukannya terus… terus… dan terus gak peduli apa yg akan terjadi.
Seperti yg udah kamu baca diatas, pekerjaan ini kelihatannya menyenangkan tapi menjadi male porn actor itu berarti kerja keras dengan hasil yg gak selalu sesuai. Kayaknya aku lupa nyebut ini, kalian akan terus-menerus diliputi rasa kuatir akan ketahuan ama keluarga atau teman-temanmu mengenai profesimu sebenarnya! Anggap aja ini Bonus dari 7 alasan diatas. Aku akan segera pensiun setelah bisa ngumpulin biaya untuk kuliah.
sumber: indowap.net
…. dan bukan gw !
Hai, aku bintang filem porno dan ini menyebalkan ! Aku tahu yg mungkin kalian semua pikirkan,
“Sialan lo, k**tol lo udah gede gitu ditambah lagi dibayar buat ng**tot masih aja protes !”
Emang benar, tapi menjadi “profesional” itu tidak seperti bayangan kalian. Aku udah menekuni perkerjaan ini hampir 2 tahun, mengalami banyak hal lucu, menggairahkan dan banyak ( paling banyak ) pengalaman buruk. Dibawah ini aku membuat daftar “7 Hal Paling Utama Kenapa Kamu Jangan Menjadi Aktor Film Porno”.
Tapi sebelumnya aku mau bilang, emang sih pada umumnya pekerjaanku ini sangat hot dan “kinky”, tapi urusan “baut vs mur” (tau kan artinya apa) dan hari-hari penuh perjuangan untuk tetap bertahan di “Porn Industry” bisa membuat seorang pria melemah ( dan menjadi “lemah” bisa merugikan kalo kamu berada di dalam industri ini, percayalah ! Ada di alasan no. 2 ).
Jadi kenapa aku mau kerja beginian ? Uang iya, tapi gak banyak dan kemudian ada sex nya. Tapi mungkin alasan utama aku melakukannya adalah karena aku “bisa” – tidak banyak orang yg bisa “tampil” dengan lampu sorot terang, kru kamera dan sutradara cerewet yg terus-terusan teriak “Fuck her harder !” Dan jujur saja bekerja di Dunkin’ Donuts (aku pernah bekerja disitu) situasinya jauh lebih baik.
Tapi, untuk sementara ini aku akan berjuang melakukan ini meski berat. Dan inilah alasan kenapa kamu harus berpikir seribu kali sebelum terjun menjadi aktor film porno:
ALASAN #1. Kamu Harus Ngesex
Ya kedengeran emang gila – jadi binteng pilem porno kan emang harus ngen**t. Tapi coba kamu pikirin : Mungkin kamu tu orang yg hampir selalu horny (seperti aku) tapi itu kan gk berarti kamu kepingin ngen**tin orang sepanjang hari ! Kita laki-laki cuma ngesex kalo emang udah kepingin banget, kan ? Bukan saat ada orang lain yg bilang “time to fuck” katakanlah pada pukul 2 siang saat kita ngantuk & laper. Akan ada kira-kira 8 orang didalam ruang syuting – kamu, sutradara, artis cewek yg akan kamu “eksekusi”, kameramen, petugas lampu, tukang make up dan beberapa laki-laki yg bahkan kamu gak tau siapa dan ngapain mereka disitu – dan tiba-tiba waktunya kamu harus nge**ot ! Kamera… Action… oke deh
ALASAN #2. Kamu Gak Bisa Bangunin Assetmu
Mimpi buruk setiap laki-laki ini biasa terjadi di lokasi syuting film bokep. Emang sih ada Viagra dan Cialis yg selalu tersedia. Tapi ada efek samping kalau terus-2 an minum obat-obatan ini, yaitu efek toleransi tubuh. Jadi tubuhmu akan kebal kalo kamu terlalu banyak pakai obat-2an ini. Dan setelah beberapa waktu walaupun kamu nelan segepok pil-pil ini gak akan terjadi apa-apa pada “bagian bawahmu”. Trus bagaimana dong ? Suntik penismu ( ya, dengan jarum ) dengan semacam cairan tertentu yg bisa membuat “senjatamu” langsung berdiri tegak – efeknya satu, bagian bawah penismu akan banyak terdapat lubang-2 bekas jarum suntik. Dan bagaimana jika kamu tergolong orang yg takut jarum suntik ? Jangan khawatir deh, selalu ada orang yg akan membantu… dan biasanya laki-laki
ALASAN #3. Bayaran Aktor Pria Jauh Lebih Kecil Daripada Artis Porno Cewek
Biasanya bayaran artis wanita berkisar antara $800 sampai $2.000 tiap scene-nya, tergantung dari berapa banyak aktor pria yg dia “layani”, dan jenis adegan apa yg dijalankan ( double penetration, threesome, deep throat, anal, cream pie dll ). Kalo bayaran kita para lelaki berapa ? Rata-rata $200 ! Ya benar cuma segitu… walaupun kita dapet duitnya setelah ngesex ama bintang porno yg cantik-2 tapi tetep aja sampe rumah kita harus bayar segala macem tagihan bulanan. Jadi kebanyakan dari kita selalu punya profesi sampingan… seperti jadi waiter atau tukang parkir
ALASAN #4. Kamu Harus Jago “Menembak”
Saat tiba pada adegan “money shot” atau “cum shot” sutradara hampir selalu menginginkan agar kamu menyiram tepat di wajah si cewek. Tidak ada yg lebih buruk dari ketika lagi adegan hot lalu disaat terakhir, terakhir sekali dengan artis cewe cantik berlutut didepanmu dengan mulut terbuka menanti kehadiran sperma mu dan CROT ! Kamu terlalu bersemangat sehingga cairanmu malah terbang melayang mengenai tembok didepanmu ato kamu udah capek dan bukannya nyembur tapi spermamu malah netes-2 kaya ingus. Lalu CUT ! Si Sutradara akan minta agar kamu mengulangi adegan tadi, dan kalo kamu udah lemes mereka akan menggantimu dengan orang lain yg pistol gombyoknya masih penuh amunisi. Egois banget kan !
ALASAN #5. Kamu Gak Selera Dengan Partner Mainmu
Mungkin sebagian besar dari kalian belum pernah menyentuh payudara hasil operasi plastik. Apalagi yg diisi dengan silicon dengan ukuran hampir seperti bola sepak itu. Kalo kamu pas apes dan salah satu dari “pepaya bangkok” menghantam kepalamu… rasanya sakit banget bro ! Mungkin kamu suka cewe yg langsing atau putih tapi kalo yg sedang kamu ent*t di film itu chubby dan item atau terlalu ceking dan ngingetin kamu dengan saudara perempuanmu – kamu tau kan maksudnya. Gak penting apakah kamu MEMBENCI wajah, bau atau rasa dari artis porno partnermu – kamu harus tetap dengan semangat ngen**t in dia atau kamu akan tergusur dengan predikat “sulit diajak bekerja sama” atau “pemilih” dan akhirnya gak ada lg yg manggil kamu untuk ikutan casting.
Ini benar-2 harus kamu perhatikan , kamu harus punya mental yg sangat kuat ( dan punya bakat lebih dalam berfantasi membayangkan orang lain ) untuk mengatasi masalah ini.
ALASAN #6. Kamu Harus Punya Toleransi Yang Luar Biasa
Mungkin kamu akan beradegan threesome dengan aktor pria lain dan satu artis cewek atau kamu harus ngelakuin double penetration dengan kemungkinan 100% penismu akan bersentuhan dengan kon**l rekan mainmu. Atau kamu bakalan gak nyaman saat juru kamera bersandar di bahumu untuk bisa mendapatkan gambar terbaik saat si artis lagi mengulum “bijimu”. Gak suka anal sex ? Sayang sekali. Gak suka jilatin me**k ? Wah berat men ! Dan juga bayangin kalo kamu harus menggendong si artis bagai Superman ( adegan di tembok, diatas sofa, diatas tangga…. ) Mereka sama sekali tidak ingin mendengar kamu komplain. LAKUKAN atau enyah dari sini…. Kita bisa nyari orang lain !
ALASAN #7. Partner Mainmu Gak Sengaja Menyakiti “Assetmu”
Inget ya bro… partner mainmu jg kepingin terlihat “panas”, tampil penuh nafsu ( karir dan penghasilannya kan juga tergantung dengan ini ). Jadi dia akan menggigit penismu, ngocok terlalu keras dan cepat, ngisep biji-bijianmu dan memutar-mutarnya seperti lagi menggiling daging mentah untuk dijadiin hamburger. Dan berbagai macam jenis siksaan lainnya. Gak mungkin kamu ngomong kalo kesakitan ke partnermu karena mungkin rekan mainmu itu juga lagi kesakitan habis kamu bor dengan senjatamu yg barusan disuntik obat hingga mati rasa. Sutradara jelas bukan orang yg mau bersimpati ama kamu, kru yg lain juga gk akan peduli dengan perasaanmu. Dan ada lagi yg namanya “Angle” atau sudut pengambilan gambar.
Ingat ini… ANGLE. Dari sisi samping, atas, bawah dan sudut-sudut gak normal lainnya yg pada intinya agar kamera bisa mengambil adegan utama dari film porno… Penis Masuk Ke Vagina ! Apa yg terasa bagus dalam hubungan sex normal seringkali tidak baik untuk film jadi seringkali kamu harus bergaya bagai pesenam olimpiade saat disyuting, dan kebanyakan… rasanya sakit. Kadang-kadang rasanya penismu akan patah ! Dan kamu harus tetep melakukannya terus… terus… dan terus gak peduli apa yg akan terjadi.
Seperti yg udah kamu baca diatas, pekerjaan ini kelihatannya menyenangkan tapi menjadi male porn actor itu berarti kerja keras dengan hasil yg gak selalu sesuai. Kayaknya aku lupa nyebut ini, kalian akan terus-menerus diliputi rasa kuatir akan ketahuan ama keluarga atau teman-temanmu mengenai profesimu sebenarnya! Anggap aja ini Bonus dari 7 alasan diatas. Aku akan segera pensiun setelah bisa ngumpulin biaya untuk kuliah.
sumber: indowap.net
Selasa, 22 Desember 2009
Onani Siang Hari di Bulan Ramadhan
Pertanyaan
Ass. wr. wb.,
Ustadz, saya mau bertanya apakah hukumnya melakukan onani (bukan bersenggama) di siang hari bulan Ramadhan?
Wassalam,
Ervan Bahrian
Jawaban
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Ervan Bahrian yang dimuliakan Allah swt
Onani (istimna’) adalah mengeluarkan mani bukan melalui persetubuhan baik dengan tangan maupun dengan cara lainnya, demikian pengertian bahasanya. Sedangkan didalam buku-buku fiqih disebutkan bahwa onani mengeluarkan mani dengan tangan baik tangannya sendiri, tangan istrinya atau tangan budak perempuannya. (Lihat : Hukum Onani atau Masturbasi)
Onani yang dilakukan seseorang saat berpuasa maka menurut para ulama Maliki, Syafi’i dan Hambali dan pada umumnya ulama Hanafi mengatakan bahwa onani dengan menggunakan tangan membatalkan puasa.
Tidak ada kafarat didalam perbuatan onani itu meskipun ia membatalkan puasa, demikian menurut Hanafi dan Syafi’i. Hal ini berbeda dengan pendapat yang menjadi sandaran Maliki dan salah satu pendapat dari Hambali, karena onani itu menjadikannya berbuka dari puasa tanpa adanya jima’ dan karena tidak ada satu nash pun atau ijma’ yang mewajibkannya kafarat.
Adapun pendapat yang menjadi sandaran Maliki adalah diwajibkan atasnya kafarat dan qodho, demikian pula sebuah riwayat dari Ahmad bin Hambal, pada umumnya riwayat dari Rofi’i dari kalangan Syafi’i serta riwayat dari Abi Kholf ath Thobariy menunjukkan hal itu.
Dalil dari diwajibkan atasnya kafarat adalah dikarenakan perbuatan itu menjadi sebab keluarnya mani yang serupa dengan keluarnya mani melalui jima’. (Al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 1159)
Dengan demikian onani yang dilakukan seseorang di siang hari Ramadhan dapat membatalkan puasanya dan diwajibkan baginya bertaubat kepada Allah dan mengqodho (mengganti) puasanya itu tanpa adanya kafarat dikarenakan kafarat hanya dikhususkan apabila terjadi jima’ saja (Lihat : Bisakah Fidyah Mengganti Batal Puasa Karena Senggama), sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Nabi saw dan berkata,”Aku telah celaka wahai Rasulullah.” Nabi menjawab,”Apa yang membuatmu celaka?”
Orang itu berkata,”Aku telah menyetubuhi istriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya,”Adakah kamu memiliki sesuatu untuk membebaskan budak?” Orang itu menjawab,”Tidak.” Nabi bertanya,”Sanggupkah kamu berpuasa dua bulan terus-menerus?” Orang itu berkata,”Tidak.” Nabi bertanya,”Apakah kamu memiliki sesuatu untuk memberikan makan enam puluh orang miskin.” Orang itu menjawab,”Tidak.” Kemudian Nabi terdiam beberapa saat hingga didatangkan kepada Nabi sekeranjang berisi korma dan berkata,”Nah, sedekahkanlah ini.” Orang itu berkata,”Adakah orang yang lebih miskin dari kami. Maka tidak ada tempat diantara dua batu hitam penghuni rumah yang lebih miskin dari kami.” Lalu Nabi pun tertawa hingga terlihat gigi grahamnya kemudian berkata,”Pegilah dan berikanlah ini kepada keluargamu.” (HR. Jama’ah)
Wallahu A’lam
sumber: eramuslim.com
Ass. wr. wb.,
Ustadz, saya mau bertanya apakah hukumnya melakukan onani (bukan bersenggama) di siang hari bulan Ramadhan?
Wassalam,
Ervan Bahrian
Jawaban
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Ervan Bahrian yang dimuliakan Allah swt
Onani (istimna’) adalah mengeluarkan mani bukan melalui persetubuhan baik dengan tangan maupun dengan cara lainnya, demikian pengertian bahasanya. Sedangkan didalam buku-buku fiqih disebutkan bahwa onani mengeluarkan mani dengan tangan baik tangannya sendiri, tangan istrinya atau tangan budak perempuannya. (Lihat : Hukum Onani atau Masturbasi)
Onani yang dilakukan seseorang saat berpuasa maka menurut para ulama Maliki, Syafi’i dan Hambali dan pada umumnya ulama Hanafi mengatakan bahwa onani dengan menggunakan tangan membatalkan puasa.
Tidak ada kafarat didalam perbuatan onani itu meskipun ia membatalkan puasa, demikian menurut Hanafi dan Syafi’i. Hal ini berbeda dengan pendapat yang menjadi sandaran Maliki dan salah satu pendapat dari Hambali, karena onani itu menjadikannya berbuka dari puasa tanpa adanya jima’ dan karena tidak ada satu nash pun atau ijma’ yang mewajibkannya kafarat.
Adapun pendapat yang menjadi sandaran Maliki adalah diwajibkan atasnya kafarat dan qodho, demikian pula sebuah riwayat dari Ahmad bin Hambal, pada umumnya riwayat dari Rofi’i dari kalangan Syafi’i serta riwayat dari Abi Kholf ath Thobariy menunjukkan hal itu.
Dalil dari diwajibkan atasnya kafarat adalah dikarenakan perbuatan itu menjadi sebab keluarnya mani yang serupa dengan keluarnya mani melalui jima’. (Al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 1159)
Dengan demikian onani yang dilakukan seseorang di siang hari Ramadhan dapat membatalkan puasanya dan diwajibkan baginya bertaubat kepada Allah dan mengqodho (mengganti) puasanya itu tanpa adanya kafarat dikarenakan kafarat hanya dikhususkan apabila terjadi jima’ saja (Lihat : Bisakah Fidyah Mengganti Batal Puasa Karena Senggama), sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Nabi saw dan berkata,”Aku telah celaka wahai Rasulullah.” Nabi menjawab,”Apa yang membuatmu celaka?”
Orang itu berkata,”Aku telah menyetubuhi istriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya,”Adakah kamu memiliki sesuatu untuk membebaskan budak?” Orang itu menjawab,”Tidak.” Nabi bertanya,”Sanggupkah kamu berpuasa dua bulan terus-menerus?” Orang itu berkata,”Tidak.” Nabi bertanya,”Apakah kamu memiliki sesuatu untuk memberikan makan enam puluh orang miskin.” Orang itu menjawab,”Tidak.” Kemudian Nabi terdiam beberapa saat hingga didatangkan kepada Nabi sekeranjang berisi korma dan berkata,”Nah, sedekahkanlah ini.” Orang itu berkata,”Adakah orang yang lebih miskin dari kami. Maka tidak ada tempat diantara dua batu hitam penghuni rumah yang lebih miskin dari kami.” Lalu Nabi pun tertawa hingga terlihat gigi grahamnya kemudian berkata,”Pegilah dan berikanlah ini kepada keluargamu.” (HR. Jama’ah)
Wallahu A’lam
sumber: eramuslim.com
Apa Perlu Saya Lakukan
Pertanyaan
Salam ustz...saya ada kawan yang mempunyai masalah suka melancap (beronani)..dia masih belajar...kalau diikutkan keadaanya dia patut menikah..tapai alasannya dia masih belum bersedia...apakah yang teman saya ini perlu lakukan...adakah dia boleh meneruskan perbuatannya itu?
Aiman, malaysia
Jawaban
Saudaraku Aiman di Malaysia yang dimuliakan Allah SWT, awal mula melakukan onani biasanya karena rangsangan seksual dari lingkungan yang terus menerus. Siaran TV yang seronok, bacaan yang erotik, mata yang tidak terjaga, dan percakapan yang diselipi oleh kata-kata porno (walau dengan nada bercanda) adalah contoh lingkungan yang dapat meningkatkan libido seksual. Lalu karena tidak mampu menahan libido tersebut dan belum menikah pelariannya adalah onani (bagi lelaki) atau masturbasi (bagi perempuan).
Jika onani dirasakan sebagai pelarian yang menyenangkan, maka hal ini akan diulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihindari.
Solusi dari berhenti onani adalah menikah. Dengan menikah seseorang mempunyai cara yang sehat dan syar’i untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Namun jika belum siap menikah, maka solusi sementaranya adalah menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif, menjauhi diri dari lingkungan yang merangsang libido dan memperbanyak ibadah (mendekatkan diri kepada Allah). Jika solusi di atas tidak mampu menyelesaikan kebiasaan onani, maka sangat dianjurkan agar kita segera menikah.
Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan agar pemuda dan pemudi Islam tidak menunda-nunda untuk menikah. Kehidupan sekarang ini membuat kita terpengaruh untuk menunda-nunda menikah dengan berbagai alasan. Misalnya, menyelesaikan kuliah dahulu, mapan dahulu atau mengejar karir lebih dahulu. Alasan yang kelihatannya rasional ini ternyata malah menimbulkan masalah baru yang lebih buruk, yakni munculnya generasi muda yang terperosok pada perzinahan dengan berbagai bentuknya.
Lalu tentang hukum beronani dalam Islam, saya kutip disini pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan :
“Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu'minuun: 5 - 6]
Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negatif syahwat.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.
Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda”.
Demikian pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan yang saya kutip dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram.
Demikian, semoga bermanfaat.
Salam Berkah!
(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan
sumber: eramuslim.com
Salam ustz...saya ada kawan yang mempunyai masalah suka melancap (beronani)..dia masih belajar...kalau diikutkan keadaanya dia patut menikah..tapai alasannya dia masih belum bersedia...apakah yang teman saya ini perlu lakukan...adakah dia boleh meneruskan perbuatannya itu?
Aiman, malaysia
Jawaban
Saudaraku Aiman di Malaysia yang dimuliakan Allah SWT, awal mula melakukan onani biasanya karena rangsangan seksual dari lingkungan yang terus menerus. Siaran TV yang seronok, bacaan yang erotik, mata yang tidak terjaga, dan percakapan yang diselipi oleh kata-kata porno (walau dengan nada bercanda) adalah contoh lingkungan yang dapat meningkatkan libido seksual. Lalu karena tidak mampu menahan libido tersebut dan belum menikah pelariannya adalah onani (bagi lelaki) atau masturbasi (bagi perempuan).
Jika onani dirasakan sebagai pelarian yang menyenangkan, maka hal ini akan diulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihindari.
Solusi dari berhenti onani adalah menikah. Dengan menikah seseorang mempunyai cara yang sehat dan syar’i untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Namun jika belum siap menikah, maka solusi sementaranya adalah menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif, menjauhi diri dari lingkungan yang merangsang libido dan memperbanyak ibadah (mendekatkan diri kepada Allah). Jika solusi di atas tidak mampu menyelesaikan kebiasaan onani, maka sangat dianjurkan agar kita segera menikah.
Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan agar pemuda dan pemudi Islam tidak menunda-nunda untuk menikah. Kehidupan sekarang ini membuat kita terpengaruh untuk menunda-nunda menikah dengan berbagai alasan. Misalnya, menyelesaikan kuliah dahulu, mapan dahulu atau mengejar karir lebih dahulu. Alasan yang kelihatannya rasional ini ternyata malah menimbulkan masalah baru yang lebih buruk, yakni munculnya generasi muda yang terperosok pada perzinahan dengan berbagai bentuknya.
Lalu tentang hukum beronani dalam Islam, saya kutip disini pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan :
“Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu'minuun: 5 - 6]
Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negatif syahwat.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.
Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda”.
Demikian pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan yang saya kutip dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram.
Demikian, semoga bermanfaat.
Salam Berkah!
(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan
sumber: eramuslim.com
Sebuah Cermin di Dunia Maya (+18 Thn)
Siang itu, chat room kuaktifkan karena si kecil sudah tidur, jadi aku bisa ngobrol dengan teman-teman yang juga online. Biasanya kalau waktuku tidak begitu leluasa, maka chat room aku buat offline. Dan sebuah sapaan manis tiba-tiba muncul, ditambah sebuah smile icon yang berkedip-kedip. Aha! Sahabat lamaku!
Sambil tersenyum gembira, aku bertanya kabar dan kesibukannya saat ini. Sekadar pertanyaan ringan sebagai pembuka percakapan kami yang kuharap seru setelah lama berpisah. Dulu, kami sering berbagi cerita tentang apa saja sebelum akhirnya ia menikah dan diajak suaminya ke Surabaya. Setelah itu kami nyaris putus komunikasi.
“Aku single parent sekarang, Yaya,” tulisnya sembari menyebut nama kecilku yang lain. Jika kebanyakan temanku memanggilku Via atau Ia, dia selalu menyapaku Yaya.
Aku mengerutkan alis, urung memencet keyboard. Kutatap nama di monitorku dengan perasaan tak menentu. Ah, aku selalu begitu, serba salah ketika ada temanku yang ‘terpaksa’ mengatakan hal tak menyenangkan akibat harus menjawab pertanyaanku.
“Maksudmu…?” tanyaku mengambang.
“Aku yang memutuskan untuk berpisah dari suamiku.”
Aku bersabar, menunggu kelanjutan ceritanya.
“Mungkin satu-satunya yang tidak pernah aku ceritakan sama kamu selama kita bersahabat adalah sisi kelam hidupku, Ya. Dan kini aku akan menceritakannya, karena semua itu sangat berkaitan dengan perceraianku,” tulisnya. Aku merasakan nada getir disana. Ya, kegetiran yang sangat bisa kurasakan karena dia adalah salah satu sahabat terdekatku. Kami sama-sama merasa nyaman saat berdekatan dan merasa rindu saat berjauhan.
Tapi sisi kelam apa yang akan ia ceritakan padaku? Kenapa aku jadi begitu tegang menunggu kelanjutan ceritanya? Ya, Tuhan, semoga tidak seburuk yang kubayangkan.
“Pada saat umurku enam tahun, aku menemukan selembar foto yang terselip di ventilasi jendela rumah, entah siapa yang meletakkannya di situ. Sebuah foto yang mungkin menurut orang-orang dewasa belum berpengaruh apa-apa bagi anak sekecil aku. Tapi itu salah, otakku merekam jelas sebuah adegan intim di foto itu. Seorang laki-laki dengan dua orang perempuan, di atas tepat tidur, semuanya… telanjang!” tulisnya lagi.
Aku menarik napas, firasatku mengatakan bahwa cerita yang akan kudengar akan lebih tragis dari bayanganku semula. Ya, Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak cukup siap mendengarnya.
“Aku memang masih sangat kecil waktu itu, belum mengerti tentang hubungan intim yang dilakukan orang-orang dewasa. Tapi… tapi… kenapa sejak melihat foto itu aku seperti memiliki keinginan untuk mengeksplorasi bagian-bagian vital tubuhku? Aku suka berpura-pura memiliki payudara seperti orang dewasa, suka berpura-pura…,” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Pasti berat sekali untuk mengungkapkan beban seberat itu.
Sementara aku mulai merasakan keringat memercik di kedua telapak tanganku, pertanda ketegangan kian menyesak di dadaku. Sungguh, aku takut mendengar kelanjutannya.
“Kamu tahu, Ya, aku sudah mengenal onani di kelas tiga SD,” tulisnya mengejutkan.
“Astaghfirullah…!” Aku spontan sesak napas.
“Mungkin itu adalah akumulasi dari berbagai eksplorasi fisik yang kulakukan, dan semuanya bermula dari selembar foto yang dulu kutemukan di ventilasi jendela itu,” lanjutnya lagi.
Tiba-tiba aku ingin menanyakan, apa yang ia rasakan saat melakukan itu semua sementara usianya masih sangat belia untuk mengenal birahi. Tapi telapak tanganku yang bergetar dan mengembun membuatku tak kuasa menuliskan kata-kata. Aku yakin, dia pasti sedang berusaha menahan sesak di dadanya sendiri.
“Aku hanya mengikuti instingku. Mungkin seperti hewan, karena aku belum memiliki pikiran apa-apa tentang sex dan segala hal yang bisa merangsangnya. Yang kutahu, tiap kali muncul keinginan untuk beronani, maka aku akan melakukannya, entah itu saat belajar di kelas atau saat mengaji di rumah ustad. Pikiran kanak-kanakku tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah penyimpangan,” ulasnya lagi, kali ini disertai icon :-(
“Semakin bertambah usiaku, semakin mengertilah aku bahwa sesungguhnya ada yang tidak beres dalam diriku. Aku seperti orang gila yang memperkosa diri sendiri, dan ini tak kalah menyiksa dibanding pemerkosaan yang dilakukan oleh orang lain. Karena dalam kasusku, aku harus melawan diriku sendiri, dan itu tidak ringan!”
Kepalaku menggeleng prihatin tanpa mengalihkan mataku dari layar monitor.
“Sungguh berat menghentikannya! Hingga aku duduk di perguruan tinggi pun aku masih sering kalah oleh nafsu setan itu, dan kembali melakukannya. Berulangkali! Aku sudah sangat muak, tapi aku juga sangat lemah karena dorongan itu begitu kuat. Sangat kuat!” lanjutnya.
Ah, tentu saja sangat sulit menghentikan kebiasaan yang sudah begitu lama dilakukan, apalagi masa kanak-kanak adalah awal tertanamnya sebuah kebiasaan. Sudah sangat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebab apa yang dilakukan sahabatku itu juga mengandung unsur rasa nikmat, sekalipun kenikmatan semu. Pada saat ia sadar kalau dirinya juga menikmati rasa yang semu itu, pastilah penyesalan akan muncul berlipat-lipat. Seakan-akan ia yang menginginkan hal itu padahal dorongan birahi lah sesungguhnya yang berperan. Birahi yang terpupuk sejak kecil, tanpa ia sadari.
“Aku benci pada ayahku!” getasnya tiba-tiba. “Dialah penyebab semua ini! Dialah pemilik foto cabul itu!”
“Kamu tau dari mana?” tanyaku setelah sekian lama membiarkan dia bercerita tanpa kusela.
“Aku mendengar ayah dan ibuku bertengkar di suatu malam. Lalu keesokan harinya kulihat ibuku membuang foto itu di tempat sampah. Sudah tidak utuh, karena ibu telah merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku mengintip, lalu diam-diam mengumpulkan serpihan itu, mencoba menyusunnya kembali sambil dalam hati menyayangkan kenapa ibuku merobeknya. Entah apa yang menarik dari foto itu, tapi aku merasakan sebuah dorongan aneh tiap kali memandangnya. Otak kanak-kanakku memang tidak mengerti tapi instingku bekerja dengan cepat untuk menyerap dan menikmati semua itu,” tulisnya panjang lebar, seakan-akan semuanya masih begitu segar dalam memori otaknya.
“Hingga kini, aku selalu dihantui rasa berdosa akibat semua yang telah kulakukan. Aku merasa telah lama ternoda oleh diriku sendiri. Waktu sekolah dulu, aku sering minder di depan teman-teman yang menurutku normal dan bersih.” Sebuah icon :-( muncul lagi.
“Tapi syukurlah setelah kuliah aku diajak mengikuti pengajian di kampus yang akhirnya membuatku benar-benar kuat meninggalkan semua kebiasaan buruk itu. Sungguh, aku sangat takut jika tiba-tiba aku menyerah dan melakukannya lagi. Untunglah teman-teman di pengajian itu selalu menyemangatiku meski mereka tak tahu masa laluku,” tulisnya melanjutkan. Ah, syukurlah, dadaku mendadak terasa lebih lapang.
Tapi… cerita itu belum selesai.
“Kamu ingin tahu hubungannya dengan perceraianku?” Ia bertanya penuh pancingan, namun aku hanya menunggu penasaran.
“Suamiku suka mengoleksi majalah dan menonton film-film porno. Sesuatu yang sangat tidak aku duga sebelum kami menikah dulu. Dan ketika aku mengetahui hal itu, aku seperti diseret ke dalam sebuah labirin yang panjang sebelum akhirnya terhempas dalam kubangan masa laluku. Aku seperti disodorkan lagi pada sebuah kenyataan yang sangat buruk dan kubenci. Aku seakan dihantui bayangan-bayangan kelam yang menakutkan…,” lanjutnya getir, amat getir kurasa.
Ya, Tuhan, aku menelan ludah membayangkan perasaannya. Kurasakan mataku memanas, tak kuasa menahan iba.
“Aku adalah bukti dan hasil dari sebuah keteledoran orangtua yang suka melihat hal-hal cabul. Dan aku nggak mau anak-anakku mengalami hal yang sama. Jika sebuah foto saja bisa begitu hebat pengaruhnya pada jiwa dan perkembanganku, bagaimana dengan film atau video-video cabul? Pasti akan jauh lebih dahsyat. Bisa-bisa anakku dengan gampang melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya di usia belia. Na’udzubillahi min dzalik!” nada kalimatnya begitu bergelombang, penuh emosi. Sebagai sahabat, tentu aku merasakannya.
Sambil menahan agar air mataku tidak meleleh, kembali kutelan ludah yg menyekat. Berkali-kali aku menghela napas dalam-dalam untuk memberi ruang lebih bagi oksigen yang sejak tadi terasa sempit melewati paru-paruku.
Melintas bayangan dua buah hatiku yang masih balita, hatiku kian terenyuh. Sungguh, jangan sampai mental mereka diracuni oleh pornografi seperti yang dialami sahabatku ini. Mereka adalah amanah Allah yang harus kujaga, bagaimana kelak aku mempertanggungjawabkan mereka dihadapan Allah jika mereka justru rusak oleh kelalaianku sendiri. Oh, no!
Mendadak aku tersadar, inilah cermin bagiku, cermin bagi banyak orang tua, agar mereka berhati-hati menjaga buah hatinya. Jangan sampai akibat perilaku buruk orangtua, anak-anak lah yang jadi korbannya. Begitu pun ketika mendapati anak-anak berperilaku menyimpang, jangan buru-buru memarahi dan menyalahkannya, tapi segeralah bercermin dan lakukan introspeksi diri secara jujur. Orangtua tidak selalu benar, bukan?
“Aku sudah berkali-kali mengingatkan suamiku, mulai dari cara yang paling lembut, sampai cara paling ekstrim yang mampu kulakukan. Tapi dia selalu berkilah dengan sejuta alasan yang kadang sangat menyakitkan bagiku,” lanjutnya lagi dengan nada kecewa yang tak mampu ditutupi.
“Aku bukan orang yang pintar berdalil dengan ayat-ayat, Yaya. Tapi menurutmu, melihat orang berhubungan intim itu dosa, nggak? Jangankan melihat itu, melihat aurat orang lain saja nggak boleh, kan? Jangankan melihat orang berzina, melihat suami istri berhubungan intim saja dilarang, kan?” Kalimat-kalimat penuh tanya yang kurasa tak membutuhkan jawaban dariku.
“Sungguh, kamu kuat bisa melalui semua ini,” tulisku sungguh-sungguh.
“Ya, dan aku merasa sangat kuat ketika membawa anak-anakku pergi, bukan untuk memisahkan dari ayah kandung mereka tapi untuk menjauhkannya dari pengaruh buruk yang mungkin belum mereka sadari. Karena aku ingin rumah tempat anak-anakku tumbuh adalah rumah yang steril dari hal-hal seperti itu, demi melindungi jiwa dan masa depan mereka. Juga demi menghapus ingatanku dari trauma masa lalu.” Kali ini kalimatnya terdengar lebih tegar.
“Mungkin bagi suamiku belum cukup, tapi bagiku sudah cukup. Anak-anakku sudah semakin besar dan semakin mudah menyerap apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apa boleh buat, sebagai seorang ibu aku wajib melindungi anak-anakku. Mereka adalah amanah Allah. Dan aku bertanggung jawab kelak di hadapan Allah atas amanah yang kuterima. Jadi maaf jika akhirnya aku lebih memilih berpisah.” Kalimatnya semakin tegar dan yakin. Syukurlah, aku juga merasa semakin lega. Paru-paruku pun kian lancar dialiri oksigen.
Kami saling terdiam. Sesaat kemudian kami sama-sama melempar senyum di chat room, mewakili hati kami yang saling menguatkan dan mendoakan. Dia, sahabatku tercinta. Seorang sahabat yang kuat dan sangat pandai menyimpan cerita buruk masa lalunya selama puluhan tahun tanpa sempat terbaca sedikit pun olehku. Kini, ia pun menjadi cermin bagiku dalam melangkah. (V)
sumber: noviasyahidah.com
Sambil tersenyum gembira, aku bertanya kabar dan kesibukannya saat ini. Sekadar pertanyaan ringan sebagai pembuka percakapan kami yang kuharap seru setelah lama berpisah. Dulu, kami sering berbagi cerita tentang apa saja sebelum akhirnya ia menikah dan diajak suaminya ke Surabaya. Setelah itu kami nyaris putus komunikasi.
“Aku single parent sekarang, Yaya,” tulisnya sembari menyebut nama kecilku yang lain. Jika kebanyakan temanku memanggilku Via atau Ia, dia selalu menyapaku Yaya.
Aku mengerutkan alis, urung memencet keyboard. Kutatap nama di monitorku dengan perasaan tak menentu. Ah, aku selalu begitu, serba salah ketika ada temanku yang ‘terpaksa’ mengatakan hal tak menyenangkan akibat harus menjawab pertanyaanku.
“Maksudmu…?” tanyaku mengambang.
“Aku yang memutuskan untuk berpisah dari suamiku.”
Aku bersabar, menunggu kelanjutan ceritanya.
“Mungkin satu-satunya yang tidak pernah aku ceritakan sama kamu selama kita bersahabat adalah sisi kelam hidupku, Ya. Dan kini aku akan menceritakannya, karena semua itu sangat berkaitan dengan perceraianku,” tulisnya. Aku merasakan nada getir disana. Ya, kegetiran yang sangat bisa kurasakan karena dia adalah salah satu sahabat terdekatku. Kami sama-sama merasa nyaman saat berdekatan dan merasa rindu saat berjauhan.
Tapi sisi kelam apa yang akan ia ceritakan padaku? Kenapa aku jadi begitu tegang menunggu kelanjutan ceritanya? Ya, Tuhan, semoga tidak seburuk yang kubayangkan.
“Pada saat umurku enam tahun, aku menemukan selembar foto yang terselip di ventilasi jendela rumah, entah siapa yang meletakkannya di situ. Sebuah foto yang mungkin menurut orang-orang dewasa belum berpengaruh apa-apa bagi anak sekecil aku. Tapi itu salah, otakku merekam jelas sebuah adegan intim di foto itu. Seorang laki-laki dengan dua orang perempuan, di atas tepat tidur, semuanya… telanjang!” tulisnya lagi.
Aku menarik napas, firasatku mengatakan bahwa cerita yang akan kudengar akan lebih tragis dari bayanganku semula. Ya, Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak cukup siap mendengarnya.
“Aku memang masih sangat kecil waktu itu, belum mengerti tentang hubungan intim yang dilakukan orang-orang dewasa. Tapi… tapi… kenapa sejak melihat foto itu aku seperti memiliki keinginan untuk mengeksplorasi bagian-bagian vital tubuhku? Aku suka berpura-pura memiliki payudara seperti orang dewasa, suka berpura-pura…,” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Pasti berat sekali untuk mengungkapkan beban seberat itu.
Sementara aku mulai merasakan keringat memercik di kedua telapak tanganku, pertanda ketegangan kian menyesak di dadaku. Sungguh, aku takut mendengar kelanjutannya.
“Kamu tahu, Ya, aku sudah mengenal onani di kelas tiga SD,” tulisnya mengejutkan.
“Astaghfirullah…!” Aku spontan sesak napas.
“Mungkin itu adalah akumulasi dari berbagai eksplorasi fisik yang kulakukan, dan semuanya bermula dari selembar foto yang dulu kutemukan di ventilasi jendela itu,” lanjutnya lagi.
Tiba-tiba aku ingin menanyakan, apa yang ia rasakan saat melakukan itu semua sementara usianya masih sangat belia untuk mengenal birahi. Tapi telapak tanganku yang bergetar dan mengembun membuatku tak kuasa menuliskan kata-kata. Aku yakin, dia pasti sedang berusaha menahan sesak di dadanya sendiri.
“Aku hanya mengikuti instingku. Mungkin seperti hewan, karena aku belum memiliki pikiran apa-apa tentang sex dan segala hal yang bisa merangsangnya. Yang kutahu, tiap kali muncul keinginan untuk beronani, maka aku akan melakukannya, entah itu saat belajar di kelas atau saat mengaji di rumah ustad. Pikiran kanak-kanakku tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah penyimpangan,” ulasnya lagi, kali ini disertai icon :-(
“Semakin bertambah usiaku, semakin mengertilah aku bahwa sesungguhnya ada yang tidak beres dalam diriku. Aku seperti orang gila yang memperkosa diri sendiri, dan ini tak kalah menyiksa dibanding pemerkosaan yang dilakukan oleh orang lain. Karena dalam kasusku, aku harus melawan diriku sendiri, dan itu tidak ringan!”
Kepalaku menggeleng prihatin tanpa mengalihkan mataku dari layar monitor.
“Sungguh berat menghentikannya! Hingga aku duduk di perguruan tinggi pun aku masih sering kalah oleh nafsu setan itu, dan kembali melakukannya. Berulangkali! Aku sudah sangat muak, tapi aku juga sangat lemah karena dorongan itu begitu kuat. Sangat kuat!” lanjutnya.
Ah, tentu saja sangat sulit menghentikan kebiasaan yang sudah begitu lama dilakukan, apalagi masa kanak-kanak adalah awal tertanamnya sebuah kebiasaan. Sudah sangat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebab apa yang dilakukan sahabatku itu juga mengandung unsur rasa nikmat, sekalipun kenikmatan semu. Pada saat ia sadar kalau dirinya juga menikmati rasa yang semu itu, pastilah penyesalan akan muncul berlipat-lipat. Seakan-akan ia yang menginginkan hal itu padahal dorongan birahi lah sesungguhnya yang berperan. Birahi yang terpupuk sejak kecil, tanpa ia sadari.
“Aku benci pada ayahku!” getasnya tiba-tiba. “Dialah penyebab semua ini! Dialah pemilik foto cabul itu!”
“Kamu tau dari mana?” tanyaku setelah sekian lama membiarkan dia bercerita tanpa kusela.
“Aku mendengar ayah dan ibuku bertengkar di suatu malam. Lalu keesokan harinya kulihat ibuku membuang foto itu di tempat sampah. Sudah tidak utuh, karena ibu telah merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku mengintip, lalu diam-diam mengumpulkan serpihan itu, mencoba menyusunnya kembali sambil dalam hati menyayangkan kenapa ibuku merobeknya. Entah apa yang menarik dari foto itu, tapi aku merasakan sebuah dorongan aneh tiap kali memandangnya. Otak kanak-kanakku memang tidak mengerti tapi instingku bekerja dengan cepat untuk menyerap dan menikmati semua itu,” tulisnya panjang lebar, seakan-akan semuanya masih begitu segar dalam memori otaknya.
“Hingga kini, aku selalu dihantui rasa berdosa akibat semua yang telah kulakukan. Aku merasa telah lama ternoda oleh diriku sendiri. Waktu sekolah dulu, aku sering minder di depan teman-teman yang menurutku normal dan bersih.” Sebuah icon :-( muncul lagi.
“Tapi syukurlah setelah kuliah aku diajak mengikuti pengajian di kampus yang akhirnya membuatku benar-benar kuat meninggalkan semua kebiasaan buruk itu. Sungguh, aku sangat takut jika tiba-tiba aku menyerah dan melakukannya lagi. Untunglah teman-teman di pengajian itu selalu menyemangatiku meski mereka tak tahu masa laluku,” tulisnya melanjutkan. Ah, syukurlah, dadaku mendadak terasa lebih lapang.
Tapi… cerita itu belum selesai.
“Kamu ingin tahu hubungannya dengan perceraianku?” Ia bertanya penuh pancingan, namun aku hanya menunggu penasaran.
“Suamiku suka mengoleksi majalah dan menonton film-film porno. Sesuatu yang sangat tidak aku duga sebelum kami menikah dulu. Dan ketika aku mengetahui hal itu, aku seperti diseret ke dalam sebuah labirin yang panjang sebelum akhirnya terhempas dalam kubangan masa laluku. Aku seperti disodorkan lagi pada sebuah kenyataan yang sangat buruk dan kubenci. Aku seakan dihantui bayangan-bayangan kelam yang menakutkan…,” lanjutnya getir, amat getir kurasa.
Ya, Tuhan, aku menelan ludah membayangkan perasaannya. Kurasakan mataku memanas, tak kuasa menahan iba.
“Aku adalah bukti dan hasil dari sebuah keteledoran orangtua yang suka melihat hal-hal cabul. Dan aku nggak mau anak-anakku mengalami hal yang sama. Jika sebuah foto saja bisa begitu hebat pengaruhnya pada jiwa dan perkembanganku, bagaimana dengan film atau video-video cabul? Pasti akan jauh lebih dahsyat. Bisa-bisa anakku dengan gampang melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya di usia belia. Na’udzubillahi min dzalik!” nada kalimatnya begitu bergelombang, penuh emosi. Sebagai sahabat, tentu aku merasakannya.
Sambil menahan agar air mataku tidak meleleh, kembali kutelan ludah yg menyekat. Berkali-kali aku menghela napas dalam-dalam untuk memberi ruang lebih bagi oksigen yang sejak tadi terasa sempit melewati paru-paruku.
Melintas bayangan dua buah hatiku yang masih balita, hatiku kian terenyuh. Sungguh, jangan sampai mental mereka diracuni oleh pornografi seperti yang dialami sahabatku ini. Mereka adalah amanah Allah yang harus kujaga, bagaimana kelak aku mempertanggungjawabkan mereka dihadapan Allah jika mereka justru rusak oleh kelalaianku sendiri. Oh, no!
Mendadak aku tersadar, inilah cermin bagiku, cermin bagi banyak orang tua, agar mereka berhati-hati menjaga buah hatinya. Jangan sampai akibat perilaku buruk orangtua, anak-anak lah yang jadi korbannya. Begitu pun ketika mendapati anak-anak berperilaku menyimpang, jangan buru-buru memarahi dan menyalahkannya, tapi segeralah bercermin dan lakukan introspeksi diri secara jujur. Orangtua tidak selalu benar, bukan?
“Aku sudah berkali-kali mengingatkan suamiku, mulai dari cara yang paling lembut, sampai cara paling ekstrim yang mampu kulakukan. Tapi dia selalu berkilah dengan sejuta alasan yang kadang sangat menyakitkan bagiku,” lanjutnya lagi dengan nada kecewa yang tak mampu ditutupi.
“Aku bukan orang yang pintar berdalil dengan ayat-ayat, Yaya. Tapi menurutmu, melihat orang berhubungan intim itu dosa, nggak? Jangankan melihat itu, melihat aurat orang lain saja nggak boleh, kan? Jangankan melihat orang berzina, melihat suami istri berhubungan intim saja dilarang, kan?” Kalimat-kalimat penuh tanya yang kurasa tak membutuhkan jawaban dariku.
“Sungguh, kamu kuat bisa melalui semua ini,” tulisku sungguh-sungguh.
“Ya, dan aku merasa sangat kuat ketika membawa anak-anakku pergi, bukan untuk memisahkan dari ayah kandung mereka tapi untuk menjauhkannya dari pengaruh buruk yang mungkin belum mereka sadari. Karena aku ingin rumah tempat anak-anakku tumbuh adalah rumah yang steril dari hal-hal seperti itu, demi melindungi jiwa dan masa depan mereka. Juga demi menghapus ingatanku dari trauma masa lalu.” Kali ini kalimatnya terdengar lebih tegar.
“Mungkin bagi suamiku belum cukup, tapi bagiku sudah cukup. Anak-anakku sudah semakin besar dan semakin mudah menyerap apa-apa yang mereka lihat dan dengar. Apa boleh buat, sebagai seorang ibu aku wajib melindungi anak-anakku. Mereka adalah amanah Allah. Dan aku bertanggung jawab kelak di hadapan Allah atas amanah yang kuterima. Jadi maaf jika akhirnya aku lebih memilih berpisah.” Kalimatnya semakin tegar dan yakin. Syukurlah, aku juga merasa semakin lega. Paru-paruku pun kian lancar dialiri oksigen.
Kami saling terdiam. Sesaat kemudian kami sama-sama melempar senyum di chat room, mewakili hati kami yang saling menguatkan dan mendoakan. Dia, sahabatku tercinta. Seorang sahabat yang kuat dan sangat pandai menyimpan cerita buruk masa lalunya selama puluhan tahun tanpa sempat terbaca sedikit pun olehku. Kini, ia pun menjadi cermin bagiku dalam melangkah. (V)
sumber: noviasyahidah.com
Jaring Maya yang Menyesatkan
Hujan gerimis membasahi satu sore menjelang malam di bulan Oktober. Di teras itu saya duduk bersamanya, seorang perempuan awal tiga puluhan. Wajahnya pucat dan cekung. Matanya sembab. Ia bukan lagi sosok ceria yang pernah saya kenal. Betapa derita telah menyedot kebahagiaannya. Di depan saya dia menjadi begitu rapuh.
“Mengapa laki-laki seperti itu, Mbak? Orang yang seharusnya membina dan membimbing keluarga, tega menyakiti hati istrinya? Meskipun hanya lewat facebook atau hp, disebut apa itu kalau bukan selingkuh? Yang ada dalam pikirannya hanya seks dan memikat perempuan. Aku nggak tahan lagi, Mbak. Ini sudah yang kesekian kalinya. Aku capek…,”lirih bibirnya berkata.
Saya terdiam. Hanya sanggup mengusap arus air yang jatuh dari matanya, mengalir di pipinya yang tirus.
“Untuk apakah pernikahan itu mbak? Apa artinya selain penjara bagi kami? Aku berjuang mengalahkan egoku untuk dia. Aku mengubur cita-citaku. Aku bekerja untuk membantunya menafkahi keluarga. Aku menjaga harta dan anak-anaknya. Aku melayaninya sekuat aku bisa di sisa-sisa tenagaku. Aku menjaga harga diri dan kehormatannya di depan orang. Aku tidak mau menyerewetinya begini terus, aku capek menjadi orang yang selalu mengomeli dia. Sekarang dia menganggap aku terlalu ikut campur urusannya. Allah.. mengapa dia tega??” jeritnya tertahan di sela isak tangisnya.
Tangisnya tiba-tiba meledak. Saya memeluknya. Angin berhenti bertiup. Pepohonan tak lagi menggesek dedaunannya, seakan menyelami perasaan seorang wanita yang sedang kehilangan sayapnya.
“Menangislah, Dek. Habiskanlah tangismu malam ini, hingga tak ada lagi sisa kemarahanmu esok. Anak-anak, wajah kamu yang akan mereka lihat esok. Untuk merekalah kau harus berjuang untuk hidup,” saya mencoba membuatnya bangkit.
Tampaknya topik anak menjadi hal yang sangat sensitif baginya. Tangisnya kian dalam di dada saya. Cakrawala membenamkan cahaya sore perlahan. Alam mendengarkan nyanyian cinta seorang istri kepada suaminya. Begitu halus dan manis. Namun mengapa justru suaminya tak dapat mendengar kasidah indah itu?
Tak sekali dua saya mendengarkan curhatan teman-teman tentang perilaku para suami. Sebenarnya saya tidak begitu suka, tetapi daripada mereka bercerita kepada orang tang tidak tepat, lebih baik saya sediakan telinga. Sesungguhnya perempuan hanya perlu didengarkan.
Paling banyak mereka mengeluhkan tentang selingkuhan. Sejak dari berteman terlalu akrab sampai pada perilaku seksual dengan orang selain istrinya. Kali ini teman saya ini bercerita tentang perilaku suaminya yang mulai aneh-aneh sejak aktif berinternet. Sejak ada internet di rumah, suaminya selalu nongkrong di depan komputer. Sampai akhirnya teman saya sendiri tertidur karena lelah seharian bekerja dan mengurus rumah. Mengajak suaminya untuk tidur bersama-sama pun sering ditampik. Mereka mulai jarang mengobrol. Suaminya asyik berinternet, dia sendiri sibuk dengan pekerjaan rumah dan anak-anak. Terkadang sampai menjelang subuh suaminya baru tidur. Pada handphone suaminya dia pun sering mendapati ada panggilan atau telepon yang dilakukan lewat tengah malam. Ketika nomor itu ditelepon kembali, ternyata suara di seberang adalah milik seorang perempuan.
Sebelumnya ia menemukan gambar-gambar yang tidak pantas dalam folder tersembunyi di komputer rumah mereka. Sakit hati sudah pasti. Ia yang dengan tegasnya menolak pornografi, memiliki suami yang menjadi konsumen pornografi. Naif. Sekali, dua, tiga, empat, dan sekian kali suaminya selalu minta maaf dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya. Lama-lama ia terbiasa meskipun sungguh tidak ingin.Menganggap istrinya baik hati, suaminya malah mulai berekperimen dengan hawa nafsunya: membuat ID facebook samaran untuk menggaet perempuan gampangan, terakhir ia mendapati suaminya melakukan virtual seks dengan perempuan melalui video call. Setan bertepuk tangan.
Menyakitkan.
Yah, bagi perempuan, apa lagi yang dapat dirasa? Terhina, malu, rendah diri, marah, putus asa, merasa dikhianati.
Teknologi tidak selalu membawa kebaikan bagi manusia. Semakin kuat, semakin rapuh pula ia. Teknologi ibarat pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk memotong sayuran, tetapi sekaligus dapat melukai jari kita sendiri. Dunia maya dan jejaring sosial di internet telah membuka ruang privat menjadi lebih luas daripada ruang umum. Karena itu, tak heran lagi bila kebanyakan selingkuh dimulai dari ruang-ruang tertutup itu. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga berlomba memenuhi hawa nafsunya di sana. Ada yang rela meninggalkan keluarganya demi kesenangan semu itu. Dipikirnya orang yang diajak berselingkuh lebih sesuai. Dia tidak menyadari bahwa setanlah yang telah menipunya.
“Ini ujian kenaikan tingkat untukmu, Dek. Allah sangat sayang kepadamu. Tak usahlah kita memikirkan hak. Bila suamimu tak sanggup memenuhinya, biar Allah yang mencukupkan. Ingatkan suamimu, ia sedang tersesat. Lihat apa yang belum sempurna kamu berikan kepadanya. Tak ada salahnya mencoba memperbaiki. Bersabarlah. Tak ada yang sempurna. Jika kamu tinggalkan dia, berarti kamu melepaskan ladang dakwah yang Allah berikan saat ini untukmu. Cinta itu memberi, tanpa menagih hasil. Kamu ingat kan, lilin yang habis lumat karena menerangi sekelilingnya? Kamu pasti bisa, Dek. Kamu hanya sedang tidak fokus dan terlalu sedih sekarang. Kamu bisa lalui ini. Kamu perempuan luar biasa,” saya menggenggam tangannya erat.
Seperti tersengat, tangisannya mulai reda. Saya tahu dia masih menyimpan semangat yang terkubur kepanikan dan kesedihan selama bertahun-tahun. Ia terdiam, memandangi daun melati air yang terangguk. Aliran air mata mulai terhenti menyisakan manik berkilau di matanya. Saya mengangkat wajahnya.
“Katakan kamu bisa! Kamu bisa menangis, mengapa tidak bisa tersenyum?” ujar saya.
Ia hanya menunduk. Tetapi tak ada lagi tangisnya. Saya mencolek hidungnya. Ia menatap saya lalu menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum tipis.
Ah, sahabat… dunia ini membahagiakan jika kau tahu pahitnya sedih. Menangislah jika kau ingin. Malam ini saja. Karena esok matahari akan membawamu menjadi dirimu yang baru. Berjanjilah untuk berjuang mencari jalan dari kebuntuan hidupmu. Jadilah lilin untuk keluarga dan masyarakatmu. Jangan pernah anggap dunia ini tak adil untukmu. Kehidupan abadi yang menyenangkan akan menjadi milikmu.
Untuk temanku yang mulai bermain dengan nafsumu, ketahuilah bahwa apa yang kau pegang adalah air laut yang terus merosot dari genggamanmu. Dan ketika kau minum airnya, dahagamu menjadi. Saat kau melihat orang lain lebih cantik/tampan dari istri/suamimu, mengapakah harus merasa istri/suamimu tidak seperti harapanmu? Kecantikan itu sesaat, harta itu sementara. Dan ketika semuanya hilang, kau punya apa?
Tak ada yang perlu diputus. Mengapa harus meninggalkan mereka? Kau merasa telah meninggalkan ketidaksempurnaan istri/ suamimu untuk sebuah kebahagiaan dalam sebuah kesempurnaan katamu? Aku katakah bahwa itu tipuan! Itu perselingkuhan! Tahukah kau, tak ada yang sempurna kecuali kau yang menanam kesempurnaan itu di hatimu. Dan kau mencari orang lain yang kau anggap bisa mengisi hatimu? Mengapakah? Dan kau mencari sejuta alasan untuk melegalisasi egomu? Untuk apakah?
Sahabatku, jika suami/istrimu menjadi sumber masalahmu, tak inginkah engkau bersabar? Kepada merekalah kamu bisa mencari sejumput rumbia untuk atapmu di dunia. Pada merekalah tersimpan kekuatan dirimu. Temukanlah. Jangan pernah katakan kau membenci istri/suamimu. Karena kepada merekalah kamu kembali di dunia, sejauh apa pun kau bisa berlari. Jangan pernah bakar jembatan di belakangmu, karena suatu hari mungkin kamu harus kembali. Arungi petualanganmu, tetapi ingatlah suatu saat kamu harus kembali. Kejarlah impianmu, tapi jangan lupa suatu hari kau harus menapak bumi.
Jika sekali kau merasa sakit, biar hujan yang menghapusnya. Maafmu akan memberi keajaiban di hatimu dan di hatinya. Jika kau pernah menyakiti hati suami/istrimu, jadilah pemberani untuk meminta maaf, mengakui kesalahan, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Tak perlu putus asa, tak usah merasa tak mungkin. Cinta itu ada, tapi kau perlu bersabar. Cinta itu kau tanam, bukan cuma kau petik.
Dan bila kau telaten menanam cintamu, bila suatu saat tak ada yang bisa kau pegang di dunia ini, cinta akan mengisi ruang hatimu.
Kabar bagusnya, cinta itu akan membawamu menuju cinta yang hakiki di dunia abadi.
Hmmm... adakah itu artinya buatmu?
sumber: eramuslim.ubik.net
“Mengapa laki-laki seperti itu, Mbak? Orang yang seharusnya membina dan membimbing keluarga, tega menyakiti hati istrinya? Meskipun hanya lewat facebook atau hp, disebut apa itu kalau bukan selingkuh? Yang ada dalam pikirannya hanya seks dan memikat perempuan. Aku nggak tahan lagi, Mbak. Ini sudah yang kesekian kalinya. Aku capek…,”lirih bibirnya berkata.
Saya terdiam. Hanya sanggup mengusap arus air yang jatuh dari matanya, mengalir di pipinya yang tirus.
“Untuk apakah pernikahan itu mbak? Apa artinya selain penjara bagi kami? Aku berjuang mengalahkan egoku untuk dia. Aku mengubur cita-citaku. Aku bekerja untuk membantunya menafkahi keluarga. Aku menjaga harta dan anak-anaknya. Aku melayaninya sekuat aku bisa di sisa-sisa tenagaku. Aku menjaga harga diri dan kehormatannya di depan orang. Aku tidak mau menyerewetinya begini terus, aku capek menjadi orang yang selalu mengomeli dia. Sekarang dia menganggap aku terlalu ikut campur urusannya. Allah.. mengapa dia tega??” jeritnya tertahan di sela isak tangisnya.
Tangisnya tiba-tiba meledak. Saya memeluknya. Angin berhenti bertiup. Pepohonan tak lagi menggesek dedaunannya, seakan menyelami perasaan seorang wanita yang sedang kehilangan sayapnya.
“Menangislah, Dek. Habiskanlah tangismu malam ini, hingga tak ada lagi sisa kemarahanmu esok. Anak-anak, wajah kamu yang akan mereka lihat esok. Untuk merekalah kau harus berjuang untuk hidup,” saya mencoba membuatnya bangkit.
Tampaknya topik anak menjadi hal yang sangat sensitif baginya. Tangisnya kian dalam di dada saya. Cakrawala membenamkan cahaya sore perlahan. Alam mendengarkan nyanyian cinta seorang istri kepada suaminya. Begitu halus dan manis. Namun mengapa justru suaminya tak dapat mendengar kasidah indah itu?
Tak sekali dua saya mendengarkan curhatan teman-teman tentang perilaku para suami. Sebenarnya saya tidak begitu suka, tetapi daripada mereka bercerita kepada orang tang tidak tepat, lebih baik saya sediakan telinga. Sesungguhnya perempuan hanya perlu didengarkan.
Paling banyak mereka mengeluhkan tentang selingkuhan. Sejak dari berteman terlalu akrab sampai pada perilaku seksual dengan orang selain istrinya. Kali ini teman saya ini bercerita tentang perilaku suaminya yang mulai aneh-aneh sejak aktif berinternet. Sejak ada internet di rumah, suaminya selalu nongkrong di depan komputer. Sampai akhirnya teman saya sendiri tertidur karena lelah seharian bekerja dan mengurus rumah. Mengajak suaminya untuk tidur bersama-sama pun sering ditampik. Mereka mulai jarang mengobrol. Suaminya asyik berinternet, dia sendiri sibuk dengan pekerjaan rumah dan anak-anak. Terkadang sampai menjelang subuh suaminya baru tidur. Pada handphone suaminya dia pun sering mendapati ada panggilan atau telepon yang dilakukan lewat tengah malam. Ketika nomor itu ditelepon kembali, ternyata suara di seberang adalah milik seorang perempuan.
Sebelumnya ia menemukan gambar-gambar yang tidak pantas dalam folder tersembunyi di komputer rumah mereka. Sakit hati sudah pasti. Ia yang dengan tegasnya menolak pornografi, memiliki suami yang menjadi konsumen pornografi. Naif. Sekali, dua, tiga, empat, dan sekian kali suaminya selalu minta maaf dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya. Lama-lama ia terbiasa meskipun sungguh tidak ingin.Menganggap istrinya baik hati, suaminya malah mulai berekperimen dengan hawa nafsunya: membuat ID facebook samaran untuk menggaet perempuan gampangan, terakhir ia mendapati suaminya melakukan virtual seks dengan perempuan melalui video call. Setan bertepuk tangan.
Menyakitkan.
Yah, bagi perempuan, apa lagi yang dapat dirasa? Terhina, malu, rendah diri, marah, putus asa, merasa dikhianati.
Teknologi tidak selalu membawa kebaikan bagi manusia. Semakin kuat, semakin rapuh pula ia. Teknologi ibarat pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk memotong sayuran, tetapi sekaligus dapat melukai jari kita sendiri. Dunia maya dan jejaring sosial di internet telah membuka ruang privat menjadi lebih luas daripada ruang umum. Karena itu, tak heran lagi bila kebanyakan selingkuh dimulai dari ruang-ruang tertutup itu. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga berlomba memenuhi hawa nafsunya di sana. Ada yang rela meninggalkan keluarganya demi kesenangan semu itu. Dipikirnya orang yang diajak berselingkuh lebih sesuai. Dia tidak menyadari bahwa setanlah yang telah menipunya.
“Ini ujian kenaikan tingkat untukmu, Dek. Allah sangat sayang kepadamu. Tak usahlah kita memikirkan hak. Bila suamimu tak sanggup memenuhinya, biar Allah yang mencukupkan. Ingatkan suamimu, ia sedang tersesat. Lihat apa yang belum sempurna kamu berikan kepadanya. Tak ada salahnya mencoba memperbaiki. Bersabarlah. Tak ada yang sempurna. Jika kamu tinggalkan dia, berarti kamu melepaskan ladang dakwah yang Allah berikan saat ini untukmu. Cinta itu memberi, tanpa menagih hasil. Kamu ingat kan, lilin yang habis lumat karena menerangi sekelilingnya? Kamu pasti bisa, Dek. Kamu hanya sedang tidak fokus dan terlalu sedih sekarang. Kamu bisa lalui ini. Kamu perempuan luar biasa,” saya menggenggam tangannya erat.
Seperti tersengat, tangisannya mulai reda. Saya tahu dia masih menyimpan semangat yang terkubur kepanikan dan kesedihan selama bertahun-tahun. Ia terdiam, memandangi daun melati air yang terangguk. Aliran air mata mulai terhenti menyisakan manik berkilau di matanya. Saya mengangkat wajahnya.
“Katakan kamu bisa! Kamu bisa menangis, mengapa tidak bisa tersenyum?” ujar saya.
Ia hanya menunduk. Tetapi tak ada lagi tangisnya. Saya mencolek hidungnya. Ia menatap saya lalu menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum tipis.
Ah, sahabat… dunia ini membahagiakan jika kau tahu pahitnya sedih. Menangislah jika kau ingin. Malam ini saja. Karena esok matahari akan membawamu menjadi dirimu yang baru. Berjanjilah untuk berjuang mencari jalan dari kebuntuan hidupmu. Jadilah lilin untuk keluarga dan masyarakatmu. Jangan pernah anggap dunia ini tak adil untukmu. Kehidupan abadi yang menyenangkan akan menjadi milikmu.
Untuk temanku yang mulai bermain dengan nafsumu, ketahuilah bahwa apa yang kau pegang adalah air laut yang terus merosot dari genggamanmu. Dan ketika kau minum airnya, dahagamu menjadi. Saat kau melihat orang lain lebih cantik/tampan dari istri/suamimu, mengapakah harus merasa istri/suamimu tidak seperti harapanmu? Kecantikan itu sesaat, harta itu sementara. Dan ketika semuanya hilang, kau punya apa?
Tak ada yang perlu diputus. Mengapa harus meninggalkan mereka? Kau merasa telah meninggalkan ketidaksempurnaan istri/ suamimu untuk sebuah kebahagiaan dalam sebuah kesempurnaan katamu? Aku katakah bahwa itu tipuan! Itu perselingkuhan! Tahukah kau, tak ada yang sempurna kecuali kau yang menanam kesempurnaan itu di hatimu. Dan kau mencari orang lain yang kau anggap bisa mengisi hatimu? Mengapakah? Dan kau mencari sejuta alasan untuk melegalisasi egomu? Untuk apakah?
Sahabatku, jika suami/istrimu menjadi sumber masalahmu, tak inginkah engkau bersabar? Kepada merekalah kamu bisa mencari sejumput rumbia untuk atapmu di dunia. Pada merekalah tersimpan kekuatan dirimu. Temukanlah. Jangan pernah katakan kau membenci istri/suamimu. Karena kepada merekalah kamu kembali di dunia, sejauh apa pun kau bisa berlari. Jangan pernah bakar jembatan di belakangmu, karena suatu hari mungkin kamu harus kembali. Arungi petualanganmu, tetapi ingatlah suatu saat kamu harus kembali. Kejarlah impianmu, tapi jangan lupa suatu hari kau harus menapak bumi.
Jika sekali kau merasa sakit, biar hujan yang menghapusnya. Maafmu akan memberi keajaiban di hatimu dan di hatinya. Jika kau pernah menyakiti hati suami/istrimu, jadilah pemberani untuk meminta maaf, mengakui kesalahan, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Tak perlu putus asa, tak usah merasa tak mungkin. Cinta itu ada, tapi kau perlu bersabar. Cinta itu kau tanam, bukan cuma kau petik.
Dan bila kau telaten menanam cintamu, bila suatu saat tak ada yang bisa kau pegang di dunia ini, cinta akan mengisi ruang hatimu.
Kabar bagusnya, cinta itu akan membawamu menuju cinta yang hakiki di dunia abadi.
Hmmm... adakah itu artinya buatmu?
sumber: eramuslim.ubik.net
Langganan:
Komentar (Atom)
